Serunya City Tour ke Indramayu

Sunday, April 26, 2015
Jalan-jalan ke kota tua Indramayu

Hari Minggu atau hari libur adalah waktu yang cocok untuk jalan-jalan atau wisata. Berwisata tidak harus ke luar daerah dengan mengeluarkan uang banyak tetapi sebenarnya cukup jalan-jalan di dalam kota sambil belajar sejarah, seni dan budaya. 

Indramayu tidak kalah dengan daerah lain oleh sebab itu tidak ada salahnya sebelum wisata sejarah, religi, seni dan budaya ke daerah lain, cobalah untuk mengenal sejarah, wisata religi, seni dan budaya daerah sendiri. Pada kesempatan ini saya (Didno) membawa rombongan dari SMP Negeri 1 Gabuswetan berjumlah sekitar 37 siswa untuk memperkenalkan sejarah, seni dan budaya Indramayu kepada peserta didik.
City Tour to Indramayu
 
Berangkat dari Gabuswetan sekitar pukul 07.15 sampai di Indramayu sekitar pukul 08.15. Kami menuju ke Kedai IDE (Indramayu Ethnic) Indramayu untuk bertemu dengan mas Sadewo yang akan memandu kami dan rombongan menjelajah kota tua, dan wisata religi ke leluhur Indramayu. 

Tidak berselang terlalu lama para pelajar sudah bisa menikmati berbagai benda bersejarah dan foto-foto lama di Kedai IDE. Mereka mulai tertarik melihat-lihat benda-benda yang terpajang di kedai IDE tersebut. Beberapa pelajar mulai menanyakan nama benda-benda tersebut sebagai bukti ketertarikan pada sejarah, seni dan budayanya sendiri yang belum mereka ketahui. 

Mas Sadewo sedang membagi kelompok

Puas melihat-lihat benda-benda bersejarah di kedai IDE, mas Sadewo mulai membagi rombongan menjadi empat kelompok. Mereka mempunyai tugas masing-masing. Kelompok satu bagiannya mencatat semua kejadian, dan sejarah tentang makam Pangeran Aria Wiralodra. Kelompok dua bagian mencatat semua cerita dan perjalanan ke makam Selawe. Kelompok tiga mempunyai tugas untuk mencatat sejarah dan kejadian tentang pendopo Indramayu, dan kelompok terakhir mencatat kejadian dan peristiwa di Galeri Empat Belas. 

Foto bareng sebelum mengunjungi makam

Setelah semua dibagi menjadi empat kelompok sebelum masuk kendaraan kami berfoto bersama di depan Kedai IDE Indramayu. Kemudian semua rombongan masuk ke bus untuk menuju ke tujuan pertama kita dalam City Tour To Indramayu yakni Makam Raden Bagus Aria Wiralodra. 

Ziarah Ke Makam Aria Wiralodra

Sesampainya di komplek makam Aria Wiralodra, kami dipandu oleh Jupel (Juru Pelihara) Bapak Oyo. Kami langsung masuk ke kompleks makam, mas Dewo dan Pak Oyo menyarankan kepada kami untuk berwudhu terlebih dahulu karena kita akan berdoa untuk leluhur atau pendiri Indramayu yang bernama Raden Bagus Aria Wiralodra. 
Mas Sadewo sedang menjelaskan pentingnya berziarah

Setelah memanjatkan doa-doa yang dipimpin oleh Pak Oyo untuk mendoakan leluhur atau Pendiri Indramayu. Kami dijelaskan kembali oleh mas Sadewo tentang keberadaan makam ini yang terdiri dari dua makam utama yaitu Makam Raden Bagus Aria Wiralodra dan Ki Tinggil. Sementara itu di sisi yang lainnya terdapat dua dan tiga makam di bangunan yang berbeda. 

Mas Sadewo menjelaskan sejarah singkat Indramayu kepada para pelajar. Dari mulai awal mula atau babad dan asal desa yang menjadi tempat pemakaman tersebut yang diberi nama desa Sindang. Sindang artinya Singgah atau berhenti sejenak untuk melepas lelah. Selain itu mas Dewo juga menjelaskan tentang keberadaan bangunan dengan atap yang pendek yang berarti orang hidup itu harus andap asor atau merendah tidak sombong. 

Pada kesempatan ini juga mas Dewo menjelaskan manfaatnya berziarah kubur kepada leluhur atau orang tua. Selain mengingatkan kita akan kematian juga mempunyai manfaat lain bahwa manusia semuanya akan kembali kepada Allah SWT. Oleh sebab itu diharapkan semua pelajar bisa berbuat baik terutama kepada orang tua termasuk leluhurnya. 

Setelah pemberian materi tentang sejarah Aria Wiralodra, kami dan rombongan beranjak ke makam Selawe. Makam ini disebut dengan makam Selawe karena jumlahnya ada selawe atau dua puluh lima. Ada dua makam besar yang konon merupakan petilasan Nyi Endang Dharma dan Pangeran Guru. Serta sisanya adalah murid-murid dari Pangeran Guru. 
Ibu Tuti Herayati sedang menjelaskan Makam Selawe
 
Kami beserta rombongan kali ini dipandu oleh Jupel (Juru Pelihara) Makam Selawe bernama Ibu Tuti Herayati. Pada kesempatan ini kami dan rombongan disambut dengan hangat oleh Ibu Tuti Herayati. Dia menjelaskan tentang makam Selawe kepada kami. Makam Selawe ini terdiri dari 23 murid Pangeran Guru, dan Pangeran Gurunya serta Nyi Endang Dharma. 

Dikisahkan bahwa Pangeran Guru dari Pulau Sumatera tertarik dengan kecantikan Nyi Endang Dharma yang aslinya berasal dari Sumedang Larang. Sesampainya di desa Dermayu, Pangeran Guru mengajak Nyi Endang Dharma menikah, tetapi Nyi Endang Dharma menolak. Karena merasa terhina akhirnya Pangeran Guru berperang melawan Nyi Endang Dharma yang sakti mandraguna. Karena kesaktiannya Pangeran Guru dan pengikutnya meninggal semua. 

Mendengar daerahnya dirusak oleh Nyi Endang Dharma dan Pangeran Guru, Pangeran Aria Wiralodra yang saat itu sedang tidak berada di tempat akhirnya mendengar penjelasan dari Ki Tinggil bahwa daerahnya dirusak oleh mereka. Mendengar berita tersebut akhirnya Aria Wiralodra mendatangi desa Dermayu. 

Niatnya akan memarahi Nyi Endang Dharma tetapi akhirnya Raden Aria Wiralodra kepincut dengan Nyi Endang Dharma karena kecantikan dan kesaktiannya. Tetapi lagi-lagi Nyi Endang Dharma menolak cintanya Aria Wiralodra. Daripada dia menikah dengan Aria Wiralodra, Nyi Endang Dharma memutuskan berperang dengan Pangeran Aria Wiralodra. Karena kesaktiannya berimbang mereka berperang tidak sehari dua hari tetapi berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. 

Makam Selawe Indramayu (foto Sadewo)

Untuk menghindari dirinya mengaku kalah dan harus menikah dengan Aria Wiralodra akhirnya Nyi Endang Dharma menceburkan dirinya ke dalam pusaran sungai Cimanuk. Sebenarnya dia ingin menghilangkan jejak agar tidak menikah dengan Pangeran Aria Wiralodra. 

Pada kesempatan ini pula Ibu Tuti menjelaskan mitos yang ada di Makam Selawe. Dimana mitosnya jumlah makam ini jika dihitung berbeda-beda untuk setiap orangnya. Jika seseorang menghitung jumlah makam berjumlah 25 atau lebih dari 25 maka dia akan mendapat keberuntungan. Tetapi jika dihitung jumlahnya kurang dari 25 maka mendapatkan ketidakberuntungan tetapi anda bisa mencoba menghitungnya sekali lagi. 

Setelah penjelasan dan cerita mengenai Makam Selawe oleh Ibu Tuti, kami dan rombongan langsung menghitung jumlah makam Selawe. Ternyata ada yang jumlahnya 25 ada pula yang 26 jumlahnya. 


Setelah berziarah ke makam Selawe, kami melanjutkan City Tour ke Kota Tua Indramayu yakni di jalan Veteran dan Siliwangi. Kedua jalan ini masih berdiri kokoh bangunan bersejarah seperti Kelenteng An Tjeng Bio, ada Gereja yang dibangun sejak zaman Belanda dan bangunan khas Cina atau lebih dikenal dengan Pecinan. Kami pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama di bangunan Pecinan yang sudah tidak terawat. 

Foto bareng di Pecinan

Setelah dari Pecinan kami pun beranjak lagi ke Taman Cimanuk. Disini kami beserta rombongan dijelaskan mengenai sejarah di bantaran Sungai Cimanuk yang dulunya merupakan Bandar atau Pelabuhan besar di Pulau Jawa. Tapi sekarang sudah tidak digunakan lagi tetapi peninggalan sejarah di taman ini masih ada. Disini terdapat kayu yang dulunya dijadikan tiang bendera oleh Pemerintahan Belanda. Kini bekas kayunya disimpan dan diletakkan di Taman Cimanuk. 

Mas Sadewo juga menjelaskan tentang sejarah berdirinya Mesjid Agung Indramayu, Pendopo Indramayu, Alun-alun Indramayu, 0 kilometer Indramayu, Pasar Indramayu, Rumah Sakit dan Lembaga Pemasyarakatan Indramayu yang menjadi ciri khas dari suatu kota di Indonesia.
Foto di Alun-alun Indramayu
Setelah dijelaskan kami pun beranjak ke Pendopo Indramayu, tempat dimana Bupati Indramayu berkantor. Disini kami menyempatkan diri berfoto bersama di monumen perjuangan dan di dalam pendopo Indramayu. Di sekitar Pendopo Indramayu terdapat benda-benda bersejarah seperti meriam yang pernah digunakan pada masa Penjajahan Belanda dan foto-foto Indramayu tempo doeloe. 

Santai di Taman Cimanuk Indramayu (Foto Sadewo)

Puas berfoto bareng dengan teman-teman, kami pun berangkat lagi ke Galeri Empat Belas. Lokasi Galeri ini tidak terlalu jauh dari 0 kilometer Indramayu tepatnya di jalan Siliwangi. Galeri ini dulunya adalah tempat penggilingan padi. Tapi sekarang digunakan oleh para seniman Indramayu untuk mengeluarkan karya-karyanya.
Galeri Empat Belas (Foto Sadewo)

Di tempat ini kami bisa melihat-lihat bangunan cagar budaya dan seni di Indramayu. Sehingga pelajar bisa belajar kepada seniman secara langsung. Karena disini terdapat beberapa seniman yang sedang unjuk kebolehan dalam seni rupa. 

Karena beberapa siswa perutnya sudah keroncongan akhirnya kami pun menyudahi acara City Tour To Indramayu hanya sampai di Galeri Empat Belas dan beranjak ke Cafe District Indramayu untuk makan siang. Sebenarnya masih banyak obyek-obyek wisata yang menarik lainnya yang layak dikunjungi seperti Rumah Kepala Kereta Api, Sentra Batik Paoman dan lain sebagainya. 

Dengan kegiatan ini, mudah-mudahan banyak generasi muda yang bisa mengenal jatidirinya sendiri. Mulai dari sejarah, seni dan budayanya agar mereka memahami sejarah, seni, dan budaya tanah kelahirannya sendiri sebelum mengetahui sejarah, seni, dan budaya daerah lain bahkan negara lain. 

Kami sebenarnya membutuhkan satu tempat yang bisa menampung itu semua berupa sebuah museum yang bisa dijadikan tempat wisata, pendidikan, serta ajang untuk memamerkan karya seni dan budaya daerahnya sendiri khususnya kabupaten Indramayu. 

Oleh sebab itu kami memohon kepada para pemimpin dan yang berkepentingan di kabupaten Indramayu agar lebih mementingkan nasib anak cucu kita sendiri dari pada mementingkan kepentingan diri sendiri atau golongan pada saat ini, tanpa memikirkan masa depan generasi muda. 

0 komentar:

Post a Comment test