Sejarah Kedatangan Wiralodra di Indramayu (Bagian Ke-12)

Wednesday, November 29, 2017
Ilustrasi Raden Wiralodra

Dalam hatinya Raden Wirasetra sangat kagum dan menghormati keberanian Raden Wiralodra dalam usahanya mencapai cita-citanya, sehingga akhirnya terkabul juga. Kemudian ia pun berkata : Syukurlah dinda jika demikian halnya, kanda hanya ikut mendo’akan semoga pedukuhan itu kelak menjadi negara yang subur dan makmur, tentram raharja bagi semua rakyat dan anak cucu dinda di kemudian hari. 


Setelah tiga hari lamanya beristirahat di rumah Raden Wirasetra di Pegaden, maka Raden Wiralodra meminta diri untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke pedukuhan Cimanuk. Meskipun Raden Wirasetra menahannya agar Raden Wiralodra mau tinggal beberapa hari lagi di Pegaden, namun Raden Wiralodra tetap bertekad hendak lekas pulang ke pedukuhan Cimanuk, seakan-akan ada kekuatan gaib yang mendorongnya agar ia segera kembali ke tempat kediamannya. 


Raden Wirasetra yang mengetahui keinginan Raden Wiralodra yang tidak dapat dibujuk untuk menundanya, terpaksa ia melepaskannya. Setelah memperoleh izin dari sepupunya, maka iapun segera berangkat meninggalkan Pegaden menuju ke Cimanuk. 

Setibanya di Cimanuk, tiba-tiba ia mendengar suara hiruk-pikuk datang dari arah Cimanuk sebelah timur. Setelah Raden Wiralodra yakin dari mana datangnya suara itu, maka ia pun segera berangkat menuju tempat itu. 

Tidak jauh di sebelah Timur Tanggul Cimanuk, kelihatan olehnya sekelompok pasukan yang bersorak-sorai seakan-akan pasukan yang baru kembali dari medan perang dengan membawa kemenagan. Raden Wiralodra merasa heran dan bertanya dalam hatinya, apa sebenarnya maksud dan tujuan prajurit itu dan dari mana pula mereka datang. Maka dengan langkah yang cepat Raden Wiralodra menuju barisan itu. 

Adapun barisan itu adalah balatentara Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Arya Kemuning yang kembali dari medan perang di gunung Gundul Palimanan untuk menyakinkan apakah benar lembah sungai Cimanuk ada orang yang mendirikan pedukuhan. 

Raden Wiralodra segera memasuki barisan dan bertemu dengan Patih Dipasara selaku wakil pimpinan dari pasukan itu. Maka Raden Wiralodra pun bertanya : Maafkan tuan hamba, hamba mohon bertanya tentara dari manakah tuan hamba ini dan apakah maksudnyha datang ke lembah Cimanuk ini. 

Patih Dipasara segera menjawab L kami adalah pasukan Pangeran Arya Kemuning yang hendak memeriksa orang yang membuka hutan disini tanpa minta izin lebih dahulu dari Gusti Sinuhun Cirebon, sebab hutan Cimanuk ini adalah wilayah kekuasaan Sultan Cirebon. 

Setelah mendengar keterangan dari Patih Dipasara, Raden Wiralodra berkata : adapun orang yang tuan hamba maksudkan itu adalah hamba. Hamba bernama Wiralodra yang mendirikan pedukuhan disini. Benar hingga kini hamba belum melapor kepada Gusti Sinuhun, karena pembangunan negeri ini belum lagi selesai. Hamba pasti datang menghadap Gusti Sinuhun kelak setelah pembangunan pedukuhan ini selesai. 

Patih Dipasara merasa sangat beruntung karena tanpa disengaja tiba-tiba menjumpai orang yang sedang dicarinya, sehingga tidak perlu membuang-buang tenaga untuk mencarinya. Maka berkatalah Patih Dipasara : Syukurlah kalau begitu, marilah kita sekarang bersama-sama menghadap Gusti Arya Kemuning. 

Tanpa mengeluarkan ucapan sepatah katapun Raden Wiralodra langsung mengikuti langkah Patih Dipasara menuju ke tempat peristirahatan Pangeran Arya Kemuning. Setibanya ditempat perkemahan Arya Kemuning, mereka dipersilakan duduk dan Pangeran Arya Kemuning segera menegurnya : Siapakah orang yang tuan bawa kemari itu hai Patih?. 

Patih Dipasara menjawab bahwa orang ini adalah Raden Wiralodra yang mendirikan pedukuhan disini yang sedang kita cari. Arya Kemuning segera mengalihkan pandangannya kepada Raden Wiralodra dan bertanya : 

“Hai Wiralodra, hamba baru saja menghadap Gusti Sinuhun dan hamba diperintah untuk memeriksa hutan sungai Cimanuk, karena menurut laporan yang diterima oleh Gusti Sinuhun, bahwa disini ada orang yang membuka hutan tanpa memohon izin lebih dahulu kepada Gusti Sinuhun. Bukankah tuan hamba mengetahui bahwa hutan disini termasuk wilayah kekuasaan Gusti Sinuhun Cirebon?". 

Raden Wiralodra yang selama Arya Kemuning bercakap-cakap senantiasa menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada orang yang dihadapinya, kini mulai mengangkat kepalanya seraya berkata : 

“Sesungguhnya memang hambalah yang memababad hutan Cimanuk ini untuk dijadikan tempat pemukiman, dan benar hamba belum menghadap Gusti Sinuhun untuk memohon izin, akan tetapi hamba telah mendengar bahwa Gusti Sinuhun telah mengumumkan pemberian izin kepada setiap orang yang ingin membuka hutan untuk pemukiman. Berhunbung dengan itu hamba langsung bekerja dan baru kemudian akan melapor setelah pekerjaan selesai. Kalau karen itu hamba dianggap bersalah, maka hamba mohon maaf sebesar-besarnya”. 

Dasar orang tidak tahu adat, mengambil dulu baru minta izin, tukas Arya Kemuning dengan kasar. Mendengar ucapan Arya Kemuning yang ketus itu, hati Wiralodra merasa terbakar, maka ia pun segera menjawab “Hai Arya Kemuning, mengapa tua berkata sekasar itu padahal hamba sudah mohon maaf kalau tindakan hamba itu dianggap melanggar peraturan, walaupun hamba yakni bahwa tindakan hamba akan dibenarkan oleh Gusti Sinuhun. Tunjukkan buktinya bahwa tuan benar-benar mengemban tugas dari Gusti Sinuhun”. 

Mendengar jawaban Raden Wiralodra, Arya Kemuning naik pitam dan memerintahkan kepada Patih Dipasara untuk menangkap Raden Wiralodra, akan tetapi malang baginya karena Raden Wiralodra yang sudah mulai bangkit amarahnya itu, tanpa membuang-buang waktu segera menyambut serangan Patih Dipasara dengan satu tendangan maut yang menyebabkan Patih Dipasara jatuh tersungkur di tanah. 

Melihat keadaan yang tidak menyenangkan itu, Arya Kemuning segera maju menerjang Raden Wiralodra, Arya Kemuning segera menerjang Raden Wiralodra, maka pertempuran sengit terjadi antara kedua satria itu, dorong mendorong dan banting-membanting pun tak terelakan. 

Pada permulaannya kelihatan seakan-akan sama kuatnya, akan tetapi kemudian Raden Wiralodra mendorong Arya Kemuning dengan amat kuatnya, sehingga Arya Kemuning jatuh terjerembab. Manakala ia hendak bangkit maka Raden Wiralodra mengayunkan kakinya secepat kilat dan tepat mengenai lambung Arya Kemuning. 

Arya Kemuning memekik kesakitan sambil bergelimpanan, kemudian ia merangkak mendekati kudanya yang bernama Windu (Haji) dan dengan susah payah ia berusaha menaiki kudanya sambil berteriak “Hai Wiralodra, kalau tuan benar-benar satria, majulah dan rasakan tendangan Si Windu yang telah banyak menhancurkan tentara Rajagaluh. 

Raden Wiralodra dengan tenang menjawab “Hai Arya Kemuning tak usah banyak bicara, majulah bersama dengan kuda yang tuan banggakan itu, hamba tak akan lari walaupun hamba harus mati disini. Arya Kemuning segera memacu kudanya untuk menyerang Raden Wiralodra, akan tetapi Wiralodra yang cepat melihat gelagat yang berbahaya itu, segera mendahului melompat dan menangkap tali kekang kuda Arya Kemuning dengan sekuat tenaganya. 

Akibatnya Si Windu yang terkejut itu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi serta meringkik kesakitan. Ia tak kuasa melangkah kakinya untuk maju ke depan karena tertahan oleh dorongan Wiralodra. Walaupun Arya Kemuning memecutnya agar Si Windu menerjang lawannya. Akibatnya Si Windu menerjang lawannya. Akibatnya Si Windu menjatuhkan diri di atas kedua lututnya sambil meringkik.

Wiralodra yang segera mengerti akan tingkah laku Si Windu yang ketakutan dan kesakitan itu segera melepaskan kendali yang selama ini dipegangnya teguh-teguh. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Si Windu, segeralah ia bangkit dan meloncat lari laksana terbang, walaupun tali kekangnya ditahan keras-keras oleh penunggangnya. 

Demikianlah Si Windu lari dan lari menuju daerah Kuningan tanpa menghiraukan kehendak tuannya. Konon setibanya di perbatasan Kuningan, Arya Kemuning dihempaskan dari punggungnya dan si Windu melompat lari meninggalkan tuannya memasuki hutan. 

Bersambung 
Dikutip dari Sejarah Kedatangan Wiralodra di Indramayu Karya H. A. Dasuki (Tahun 1977).

0 komentar:

Post a Comment test