Tarling Itu Berasal Dari Indramayu

Sunday, January 11, 2015
Ki Tapa Kelana sedang membacakan sejarah Indramayu

Mungkin belum banyak yang mengetahui kalau kesenian tarling itu berasal dari Indramayu. Karena selama ini banyak yang mengasumsikan bahwa tarling itu berasal dari Cirebon. Sebagai generasi muda dan generasi penerus sudah selayaknya kita menggali sejarah mengenai kebudayaan asli daerah sendiri. 

Pada kesempatan ini kami akan mengulas mengenai sejarah tarling dan perkembangannya. Agar sejarah tarling dan kesenian tarling tidak punah ditelan zaman :

Sejarah Lahirnya Tarling 

Tarling berasal dari kata gitar dan suling. Kalau mendengar kata gitar tentu bukan alat musik asli dari Indonesia. Karena gitar berasal dari Eropa dan masuk ke Indramayu melalui jalan perdagangan di Bandar Cimanuk atau Pelabuhan Cimanuk. Belanda berkuasa di Muara Cimanuk dengan membangun Stasiun kereta terakhir di Paoman berasal dari kata Pa Omahan yang artinya Pemukiman, Gudang Beras Bramasta di Bawah Randu Gede Sebelah Timur Sungai Cimanuk dan Sebelah barat pusat pemerintahan Belanda pada abad 16. Saat itu Belanda memperkenalkan irama stambul setelah sebelumnya membawa tanjidor (jidur) selama beberapa ratus tahun. 

Dikisahkan pada masa penjajahan Belanda mendekati akhir kekuasaannya, ada seorang bangsa Belanda yang memiliki gitar yang terjatuh dan rusak. Kemudian gitar tersebut dibetulkan oleh kalangan masyarakat pribumi ahli kayu di desa Kepandean Indramayu yang merupakan nenek buyutnya Pak Sugra, warga Desa Kepandean, yang hingga akhir hayatnya pada tahun 2003 lalu dikukuhkan sebagai penemu Tarling. Karena ia adalah keturunan terakhir ahli kayu dan juga pembuat gitar yang meniru gitar jaman Belanda. 

Pada saat kakek buyut Pak Sugra membetulkan gitar yang pecah itu, ia iseng memetik dawai gitar. Ternyata saat dipetik suaranya ada yang mirip dengan suara gamelan. Adapun masyarakat pada zaman itu rata-rata fasih dengan irama gamelan sebagai alat hiburan yang digunakan dalam bermain musik dengan laras kiser, bendrong, bayeman, kasmaran, macan ucul dan lain-lain. Adapun lagu-lagunya merupakan bentuk lagu-lagu pengungkapan suasana hati dan perasaan masyarakat pada saat itu. 

Atas jasa sesepuh dari Pak Sugra itulah kemudian alat tradisional gamelan, gendang dan suling yang biasanya dipikul keliling dari-desa ke desa disaat ngamen, diubah atau dipindahkan pada gitar dengan menggunakan Gitar dan suling saja. Karena pada waktu mudanya Pak Sugra dikenal sebagai pelatih tembang atau nyanyi dan pandai bermain gitar dengan laras gemelan, maka ia disebut tokoh yang pertama memindahkan irama gamelan ke Gitar dan Suling. 

Pada saat itu namanya bukan tarling tapi dikenal dengan sebutan kesenian Teng Dung. Dalam pentas kesenian ini digelar dari rumah ke rumah untuk acara keluarga dan pertemanan kemudian ditambahi alat gendang, kecrek dan kemlong sebagai pengiringnya. Namanya belum disebut sebagai Tarling

Pada waktu itu Jayana (tokoh dalang Tarling asal Semaya Krangkeng) dan Dadang Darniah (sinden Tarling asal Bogor Sukra Indramayu) di saat mudanya sering berkumpul di rumah Pak Sugra belajar dan berlatih tembang dan musik tengdung sekitar tahun 1940-an. 

Seiring kemajuan jaman dan tuntutan kebutuhan hiburan masyarakat, gamelan yang selama ini digunakan mendukung cerita di dunia pewayangan atau yang disebut gamelan wayang mulai diterapkan pada musik tengdung. Musik tengdung kebanyakan berlaras tembang kiser yang monoton saat disajikan berupa tembang yang menyayat dan yang agak cepat disebut dengan kiser gancang seperti pada Lagu Sumpah Suci, Wulan Purnama, Gadis Indramayu dan lain-lain. 

Maka untuk memberikan sebuah sajian yang menarik dan bisa ditonton semalam suntuk, para seniman tengdung pada saat itu mulai memasukkan unsur drama humor dan drama keluarga. Tentu saja diringi tembang sinden dan lagu-lagu kiser gancang sebagai daya tarik pada penggemarnya. 

Setelah kemerdekaan salah satu tokoh muda seniman tarling bernama Jayana menyebut kesenian ini dengan nama “Melodi Kota Ayu” karena dalam musik ini didominasi oleh gitar melodi dari kota Indramayu. Nama ini bertahan kurang lebih selama lima belas tahunan, kesenian ini melanglang buana dari desa ke desa dari kota-ke kota dengan sebutan yang sangat tenar “Melodi Kota Ayu”. 

Kepiawaian Jayana dalam mementaskan “Melodi Kota Ayu” semakin banyak diminta oleh kalangan bangsawan dan ningrat keraton Cirebon. Tensi pementasannya pun kemudian lebih banyak di Cirebon dibanding dengan di Indramayu. Sampai kemudian ia menikah dengan keluarga keraton Cirebon. 

Saat itulah Jayana diminta mengganti nama untuk pentas keseniannya menjadi “Melodi Kota Udang”. Setelah itu muncul tokoh muda di Cirebon yang mulai mengikuti langkah-langkah berkesenian ala Jayana, yaitu Sunarto Martaatmaja, sekitar pertengahan tahun 60 hingga 70-an yang digemari oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu. 

Saat kejayaan Sunarto ia menyebut dan mempropagandakan kesenian yang telah dimunculkan Jayana itu dengan Nama “Tarling”. Sebutan dari Gitar dan Suling sebagai alat musik yang mendominasi kesenian tersebut. Sunarto Marta Atmaja, berhasil mengangkat nama kesenian Tarling saat ia pentas bareng dengan pesinden terkenal asal Indramayu Mimi Dadang Darniah pada tahun 1971 melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Cirebon, sebagai satu-satunya sarana komunikasi dan hiburan masyarakat di Wilayah 3 Cirebon yang meliputi Cirebon, Majalengka, Kuningan dan Indramayu. 

Sunarto dan Dadang Darniah berhasil memukau pendangan dan publik melalui tarling saat itu dengan mengisahkan lakon “Gandrung Kapilayu” atau yang kemudian dikenal dengan julukan “Kang Ato Ayame ilang” sebagai bagian dari dialog percintaan mereka di acara siaran langsung RRI Cirebon saat itu. 

Pada perkembangan berikutnya sebutan kesenian Tarling oleh Sunarto dan Pesinden Dadang Darniah, di Indramayu bermunculan group-group tarling baru setelah keberhasilan Jayana di Kota Cirebon. Pesinden Dadang Darniah membentuk Tarling Endang Darma, Pesinden Hj. Dariah membuat kesenian dengan nama Tarling “Cahaya Muda”, dan Di Cirebon Muncul Abdul Adjib membentuk Tarling “Putra Sangkala” sedang Sunarto Marta Atmaja berjaya dengan group Tarling-nya “Nada Budaya”.

Pada perkembangan berikutnya Abdul ajib yang berhasil menciptakan lagu dan diterima oleh publik nasional serta cerita dalam lakon dramanya yang fenomenal, karena ia sangat tekun memilih lagu dan membuat drama dengan tehnik dan cara sesuai dengan pengalaman pendidikan dan karena latar belakangnya sebagai tokoh seniman tarling dan juga berpendidikan tinggi serta masuk kalangan ningrat Cirebon. 

Maka lahirlah lagu tarling yang fenomenal seperti Warung Pojok, Sega Jamblang, Tukang Cukur, Angon Bebek yang ia sebut sebagai lagu tarling laras kiser gancang. Dan Kisah Drama “Baridin Suratminah” atau “Kemat Jaran Guyang” juga lakon “Martabakrun”, dan “Rajeg Kerep Kandang Ayam” menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan. 

Berbeda dengan seniman tradisional Indramayu yang setiap malam melakonkan kisah yang berganta-ganti dengan koleksi ratusan cerita tanpa naskah, dan ratusan lagu tanpa dokumentasi, yang sulit diingat dan dijadikan legenda kecuali Drama “Saedah Saeni” yang mengisahkan asal usul Kesenian Ronggeng Ketuk dan cikal-bakal Tayuban di Indramayu pada masa lalu. Untuk lakon ini boleh dipentaskan oleh grup tarling manapun. Karena lakon ini merupakan legenda yang sudah turun-menurun diceritakan sebagai bagian dari sastra tutur yang berjalan ratusan tahun yang lalu. 

Hj. Dadang Darniha Maestro Sinden Indramayu

Perbedaan Tarling Modern dan Klasik 

Tarling Indramayu klasik dan modern itu sebenarnya hanyalah istilah. Karena modernisasi itu merupakan perkembangan jaman. Tarling kalau dilihat dari alatnya sudah modern. Kalau lagu dan irama musiknya memang klasik. Karena sudah ada sejak jaman Hindu dan saat jaman penjajahan Belanda. Hanya saja kini memperoleh Sebutan Tarling Klasik. 

Kalau tarling klasik sebenarnya Tarling “Teng Dung”. Karena di dalamnya ada sebuah tembang dengan irama yang dihasilkan dari gitar dan suling saja dengan laras tembang klasik dermayonan, seperti Kiser Saedah, Kiser Kedongdong, Cirebon pegot, Dermayon pegot, Kasmaran, Bayeman, dan bendrong. Adapun lagu-lagu itu asalnya diambil dari lagu-lagu “pujanggaan” berupa pupuh dandang gula, sinom, kinanti, pangkur, mijil dan lain lain yang diperbaharui dengan laras pelan diiringi suara gitar dan suling. 

Adapun yang disebut tarling modern saat ini yaitu grup kesenian tarling yang awalnya memiliki dua group dalam satu rombongan. Yakni group seniman tradisi pendukung drama dan musik tarling dan group musik berirama dangdut. Adapun cara bermainnya dengan petikan gitar gaya tarling yang kadang menyanyikan lagu dangdut asli berbahasa Indonesia, kadang berbahasa Indramayu Cirebon. 

Sementara pada saat ini muncul modernisasi yang lain. Ada group kesenian tarling yang menggunakan alat musik trio organ. Yaitu Gitar, Suling dan Organ serta didukung kemlong dan Kendang Blangpak. Ada juga yang dengan organ saja bisa membawakan lagu tarling klasik, dangdut dan lagu-lagu pop mengikuti selera pasar. Namun pada malam harinya ada drama humornya sebagai selingan. Kesenian ini disebut Organ Tarling. 

Pada perkembangan tarling berikutnya pengaruh modernisasi yang kian merajalela dan semakin terbukanya pasar bebas dan perdagangan internasional yang menglobal, membawa masyarakat seniman tarling dan para pebisnis musik tak guyah dengan pengaruh itu. Mereka yang fleksibel dan mengikuti perkembangan agar terus hidup dan berjaya. Sementara yang pakem dengan gaya lama, akan bubar dan hilang nama groupnya karena tak kuat menanggung biaya hidup nayaganya dan bersaing ketat dengan group organ tunggal. 

Kini Tarling klasik di Indramayu dan di Cirebon sudah bangkrut dan hilang, yang ada adalah grup Organ Dangdut Tarling, atau Tarling dengan iringan Organ yang ada lagu dan dramanya. Tak ada pakem yang dipertahankan. Karena kesenian ini akan terus berkembang sesuai tuntutan pasar, kondisi sosial masyarakatnya dan kemajuan tehnologi yang terus menuntut kreatifitas seniman dan masyarakat penontonnya yang menjadi lahan pasarnya. Dimana masyarakat akan memilih seni tradisional yang praktis, mudah dan murah. 

Sejak munculnya band-band baru dan lagu-lagu pop yang hits sebagaimana mewabah di tingkat nasional, ikut juga mempengaruhi perkembangan group tarling dan organ tunggal. Kejayaan musik-musik group band seperti, Raja, Gigi, The Cangcuter, Shela on7, hingga Ungu, ST 12, Wali di masyarakat telah menggeser posisi hiburan Organ Dangdut Tarling. 

Namun Group Organ Tarling Dangdut pun tak mau kalah. Mereka mencari penyanyi yang serba bisa menyajikan lagu-lagu yang disukai anak muda di sore hari dan di malam harinya ditambahi musik dangdut lama dan drama tarling serta lagu-lagu tarling dangdut. 

Disaat tarling mulai lesu dan tidak memperoleh panggungan, maka muncul nama-nama baru seperti Nano romansah dan H. Udin Zaen asal Indramayu yang menggabungkan kejayaan musik dangdut dalam pentas tarling. Sehingga ada dua pementasan dalam satu panggung yakni tarling klasik dimunculkan setelah Acara dangdutan gaya Rhoma Irama di pentas siang dan malam. 

Karena jasa Nano Romansyah dan Udin Zaen inilah kemudian grup-grup tarling lainnya mengajak pentas group dangdut anak-anak muda dalam satu panggung. Cara ini untuk melanggengkan kesenian tarling klasik. 

Berikutnya kemudian muncul tokoh Dangdut tarling seperti Yoyo Suaryo, Ipang Supendi, Toyib Suaryo, ITI S, Wati S., Nunung Alfi, Aas Rolani, Dewi Kirana, dan Kini era penyanyi organ tarling seperti Diana Sastra, Wulan, Noer Elfathony, Tuti, Deddy Yohana, Eddy Zaky, Wadi Oon, Thorikin, Edy Bentar, dan banyak tokoh lainnya, demikian diungkap Nurochman Sudibyo YS atau yang dikenal dengan nama Ki Tapa Kelana beberapa waktu yang lalu. 

Mudah-mudahan dengan tulisan ini generasi muda tidak lupa dengan sejarah budayanya sendiri dan bisa melestarikan budaya tersebut. 

3 komentar for Tarling Itu Berasal Dari Indramayu :

  1. Di isi lagu lagu klasik tarling kang..sandiwara,wayang kulit lanklasik indramayu ..matur kesuwun kang

    ReplyDelete
  2. Belajar Musik itu Gampang... Buktikan !!!

    http:/www.gladiresik.com//

    ReplyDelete
  3. Terima kasih, informasinya cukup komplit. Jayalah tarling pantura, Crebon, Indramaya gak masalah, sama saja. Mari lestarakan. Tak ada tarling di muka bumi, kecuali di sini! Bangga, bukan? Sayang, lirik lagu tarling bergeser, seronok, dan minim filosofi (yang sekarang). Apalagi tampilan sinden/biduanitanya....hmmm kadang malu aku melihatntya saat di panggung hajatan. Sayang! Bagaimanapun juga, aku cinta tarling. Dari wong Celancang, Suranenggala. Juli 2017.

    ReplyDelete