50 Motif Batik Indramayu Yang Sudah Dipatenkan (Bagian 1)

Wednesday, March 25, 2015

Motif Batik Indramayu 


Batik Indramayu memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan motif batik dari daerah lain termasuk dari tetangganya Batik Cirebon yang terkenal dengan batik Trusminya. Letak geografis dan astronomis membuat batik Indramayu memiliki keunikan tersendiri. 

Tidak heran jika motif batik tersebut lebih banyak menggambarkan binatang, tumbuh-tumbuhan dan peralatan yang ada sejak dulu hingga sekarang. Motif-motif tersebut banyak sekali, tetapi ada beberapa yang sudah memiliki hak cipta dan dipatenkan. 

Berikut 50 motif batik Indramayu yang sudah dipatenkan :
  1. Kembang Suket. Suket mudah dijumpai tumbuh di pekarangan rumah penduduk sekitar daerah pembatikan di Indramayu. Suket berarti rumput (rerumputan) yang dimaknai secara simbolik sebagai rakyat biasa (rakyat kecil ; wong cilik). Kembang berarti bunga bermakna suatu keindahan, keanggunan dan menarik. Motif kembang suket bermakna rakyat biasa harus memiliki daya tarik atau kemampuan, meskipun berasal dari kalangan bawah tetap harus berusaha dan belajar supaya memiliki prestasi yang membanggakan. 
  2. Kembang Pete. Motif ini berdasarkan gambaran alam sekitar yang dituangkan dalam bentuk seni batik pada zaman dahulu. Pohon pete yang banyak tumbuh di sekitar daerah Indramayu kebanyakan pete China atau dikenal dengan sebutan bendara (lamtoro) yang tumbuh di pesawahan atau batas-batas pekarangan. Bendara ini buahnya biasa dipakai sebagai menu lalapan dan kayunya berfungsi sebagai pagar antar rumah atau kebun/sawah. Ada pun pete yang besar ditemu di Indramayu bagian selatan berbatasan dengan Sumedang atau Subang. Biji pete dengan rasa khas banyak disukai oleh masyarakat. Motif kembang pete ini dapat diartikan seperti halnya pohon pete yang buahnya bisa dimakan dan pohonnya berfungsi sebagai pagar, manusia dalam hidupnya selain harus berguna bagi diri sendiri juga kepada masyarakat sekitarnya. 
  3. Lasem Urang. Indramayu dikenal sebagai daerah pesisir yang kaya akan hasil perikannya, salah satunya adalah udang. Dalam bahasa Indramayu udang berarti urang yang bentuknya kecil-kecil. Nelayan pergi melaut dan menangkap ikan dan udang di pesisir pantai Indramayu selama berbulan-bulan. Isteri-isteri nelayan inilah yang sejak dahulu mengkaryakan hidupnya dengan membatik selama ditinggal melaut para suaminya. Motif ini terinspirasi oleh kekayaan hasil tangkapan ikan dan udang di pantai utara Indramayu pada zaman dahulu. Konon dengan membatik motif ini berharap supaya mendapatkan hasil yang berlimpah. 
  4. Manuk Bengkuk. Motif ini menggambarkan keanekaragaman kehidupan fauna di sekitar pantai Indramayu, dimana banyak burung di pinggir pantai untuk mencari makan. Burung berwarna putih dan berleher panjang biasa ditemui di rawa-rawa dan pantai Indramayu. Burung bengkuk menjadi salah satu bagian fauna yang menginspirasi para pembatik dalam berkarya dan menuangkan dalam sehelai kain batik tulis Indramayu. 
  5. Lokcan. Lokcan berasal dari bahasa China (Luk Cuan), motif ini merupakan variasi dari motif buruk Phonix (burung Hong) yang menurut legenda bangsa China hanya muncul pada masa-masa damai dan makmur. Burung Phonix disebut Hong oleh masyarakat China diyakini sebagai pembawa keberuntungan, oleh karena itu motif Lokcan ini dibuat agar masyarakat selalu mendapatkan keberuntungan dan keberhasilan dalam segala hal. 
  6. Kereta Kencana. Penggambaran seni di zaman dahulu, kereta menjadi simbol dari kekuasaan, kemegahan, kebijaksanaan, kebangsawanan, menggambarkan puncak pencapaian tujuan. 
  7. Merak Berunding. Motif Merak Berunding menggambarkan burung yang saling berhadapan. Menunjukkan karakter, sifat dan kepiawaian rakyat Indramayu dalam mengatur strategi di zaman penjajahan. Makna berunding berarti pula strategi dalam menentukan kemufakatan dan merak berarti kepiawaian dan kegagahan. Sehingga Merak Berunding bermakna kepiawaian rakyat dalam menentukan keputusan melalui musyawarah untuk mencapai tujuan bersama. 
  8. Manuk Drawes. Manuk Drawes merupakan burung yang banyak ditemui di daerah Indramayu terutama di bantaran sungai Cimanuk. Sungai yang membelah kota Indramayu ini memang menjadi tempat tinggal dan sejarah daerah pembatikan antara lain Desa Paoman, Babadan, Penganjang, Terusan, Anjun, Pengikiran. Manuk Drawes biasa terbang di atas permukaan sungai dan hinggap di rumah penduduk. Burung pemakan serangga ini mempunyai kebiasaan mengeluarkan air liur untuk menarik mangsanya. 
  9. Merak Ngibing. Burung Merak merupakan simbol kegagahan dan kegembiraan. Ngibing berarti tarian (burung yang menari). Sehingga motif merak ngibing menggambarkan kegembiraan dari rakyat dalam mencapai kemenangan yang diekspresikan dalam bentuk tarian. 
  10. Pacar Cina. Pacar Cina ada yang mengartikan sebagai penganan (makanan) yang terbuat dari tepung berbentuk persegi kecil-kecil, dimasak dengan santan dan diberi gula. Ada juga yang menggambarkan sebagai biji daun pacar yang dapat berfungsi sebagai kutek pewarna merah kuku. Tanaman pacar berasal dari Cina, berdaun kecil dan berbunga bulat kecil. Biasanya para wanita muda menumbuk daun sampai halus, memberinya sedikit air dan memasangkan pada kuku semalaman. Dahulu, banyak orang Belanda yang menaruh simpati melihat keanggunan para wanita muda berkebaya dan berbatik yang berjari lentik dengan kuku berwarna. 
Bersambung ....

Dikutip dari buku Batik Indramayu Dekranasda Kabupaten Indramayu

0 komentar:

Post a Comment test