Di Desa Ini Tidak Boleh Menanam Labu Putih dan Ketan Hitam (Asal-usul Desa Penganjang)

Thursday, October 19, 2017
Desa Penganjang (Gambar Satudata.Indramayukab.go.id)

Bagi masyarakat Indramayu tentu pernah mendengar atau mungkin pernah mengunjungi Desa Penganjang yang terletak di Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu. Nama Penganjang bukan begitu saja ada tetapi karena ada asal-usulnya. Berikut asal-usul desa Penganjang. 

Pada zaman dahulu kala ada seorang pemuda yang mempunyai keinginan untuk menjadi seorang pengembara. Pemuda tersebut bernama Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang mempunyai perawakan tegap, ganteng dan cerdas.

Dan pengembaraan pun dilakukan oleh Jaka Tarub dari waktu ke waktu dilakukan dengan penuh ketengangan dan ketabahan. Meskipun rintangan akan selalu ada dan harus dilalui. Jaka Tarub sendiri berasal dari Solo, dia sampai di Indramayu sebelum Pangeran Syarif Hidayatulloh menyebarkan agama Islam di Cirebon. 

Manusia yang dilahirkan di dunia sudah dengan suratan takdirnya masing-masing termasuk Jaka Tarub. Karena takdir Yang Maha Kuasalah maka pada suatu hari ia sampai ke suatu tempat yang membawa riwayat serta kenangan yang tak terlupakan selama hidupnya dan juga bagi orang-orang Indramayu. 

Jaka Tarub nama aslinya adalah Ki Gede Kirom, sedangkan nama julukannya adalah Ki Gede Penganjang. KI Gede Kirom mempunyai beberapa nama panggilan diantaranya adalah Ki Jaka Tarub, Ki Gede Penganjang dan Ki Gede Laha karena dia sebagai tukang membuat laha (alat penangkap ikan). 

Disebut Ki Jaka Tarub karena dapat melindungi masyarakat pada waktu itu, sedangkan nama Ki Gede Penganjang karena mulai saat itulah ditinggalkannya anjang-anjang. 

Di tempat pengembaraannya itu Jaka Tarub menemui beberapa bidadari yang sedang bersuka ria sambil mandi-mandi di sebuah telaga yang bening airnya. Tempat tersebut bernama Sumur Krapyak. Melihat kejadian itu Jaka Tarub berhasrat menyaksikan lebih dekat bidadari sedang mandi agar lebih jelas. 

Dia mulai mengintai dari balik pohon-pohonan yang ada di sekitar sumut tersebut. Setelah bidadari itu puas bermain-main, maka pulanglah mereka ke Kahyangan. Tetapi salah satu dari bidadari tersebut tidak dapat terbang karena baju antakusumanya hilang. 

Jaka Tarub senang melihat bidadari itu tidak dapat pergi, dia sengaja menyembunyikan baju itu dengan tujuan supaya bidadari itu mau menjadi isterinya. Kemudian ditegurnya bidadari itu dan dibujuk supaya mau dikawin. 

Mulai saat itulah kedua orang itu menjadi sepasang suami isteri yang bahagia. Lama kelamaan keluarga itu mendapatkan seorang anak dan diberi nama Atasangin. Di Banten Jaka Tarub berputera seorang lagi yang diberi nama Ki Gede Bagong. 

Pada suatu hari isterinya ingin pergi memandikan anaknya ke sungai. Waktu itu periuk tempat menanak nasinya masih terjerang di atas api. Sebelum pergi bidadari Nawangwulan (Isteri Jaka Tarub) berpesan kepada suaminya bahwa tutup periuk itu sekali-kali janganlah dibuka. 

Tetapi sebaliknya sang suami penasaran saat mendengar pesan tersebut sehingga timbullah hasrat untuk membuka tutup periuk tersebut. Dan dengan segera dibukalah tutup periuk tersebut, maka tampaklah di dalamnya ada padi yang masih bersatu dengan tangkainya. 

Setelah isterinya sampai di rumah, dia mengetahui bahwa suaminya telah membuka tutup periuk tersebut, maka berkatalah ia kepada suaminya dengan penuh kesal “mas, mulai sekarang buatlah lesung dengan alunya untuk menumbuk padi, karena padi itu tidak dapat ditanak dengan kulit dan tangkainya sebab kau telah membuka tutupnya tadi”, demikian si isteri setiap hari mengambil padi ke lumbung untuk ditumbuk, sehingga isi lumbung pun makin lama makin sedikit hingga hampir habis. 

Pada suatu hari si isteri pergi mengambil padi lagi seperti biasanya, dengan tidak sengaja dia menemukan baju antakusumanya yang dahulu hilang. Mulai saat itulah Nawangwulan timbul keinginan untuk kembali ke Kayangan. 

Tetapi suaminya menjawab “bagaimana dengan anak kita yang masih kecil ini, dia masih membutuhkan air susu ibunya, apakah kamu tega meninggalkannya?”. Dia pun menjawab “Ya apa boleh buat aku harus pergi” jawab isterinya. 

“Untuk itu mas harus membuat anjang-anjang (asal kata Penganjang) yang dirambati dengan tanaman labu putih. Jadi kalau anaknya ingin menyusu letakkanlah anak tersebut ke anjang-anjang. Kemudian bakarlah merang ketan ireng (Ketan hitam) kalau saya mencium asapnya, saya akan turun ke bumi untuk menyusuinya”. 

Demikian hal tersebut dilakukan oleh Jaka Tarub hingga anak itu tidak menyusui lagi. Itulah sebabnya sampai sekarang di Desa Penganjang tidak diperbolehkan menanam labu putih dan menanam ketan hitam. 

Dikutip dari Buku Sejarah Indramayu Karya H. A Dasuki.

0 komentar:

Post a Comment test