Cerita Saidah dan Saenih Menjadi Mitos Melempar Receh Di Jembatan Sewo

Thursday, October 12, 2017
Jembatan Sewo Perbatasan Indramayu Subang (Dok. Didno)

Di suatu kampung hiduplah sepasang suami isteri yang memiliki dua orang anak yang laki-laki bernama Saidah dan yang perempuan bernama Saenih. Kedua pasang suami isteri tersebut adalah Ki Sarkawi dan Nyi Sarkawi. Pekerjaan Ki Sarkawi adalah seorang pencari kayu bakar di hutan. 

Tetapi nasib berkata lain, isterinya Nyi Sarkawi telah lebih dulu dipanggil Allah Yang Maha Kuasa sebelum kedua putera dan puterinya tumbuh besar. Sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, Nyi Sarkawi berpesan kepada suaminya bahwa kedua anaknya harus diurus dengan baik. Tetapi tidak berapa lama Ki Sarawi mencari isteri lagi dan akhirnya menikah kembali dengan wanita lain.

Hingga akhirnya kedua anak tersebut mendapatkan seorang ibu tetapi ibu tiri. Memang sudah tidak aneh lagi apabila ada ibu tiri yang tidak senang dengan anak tirinya. Demikian yang dialami Saidah dan Saenih, dengan hati yang sabar keduanya tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Ki Sarkawi pergi mencari kayu ke hutan dengan meninggalkan keluarganya. Pada suatu hari ibu tirinya pergi ke pasar, dia hanya berpesan kepada anaknya untuk menjaga rumah, sedangkan soal makan anaknya, ibu tiri itu tidak bertanggung jawab sedikitpun. 

“Saidah awas janganlah sekali-kali kamu berani mengambil uang dan beras ini, dan jangan pula kau berani memakainya”, demikian pesan ibu tirinya kepada kedua anak tirinya. “Baik bu” jawab Saidah. 

Dengan tidak mengingat waktu dan anak tirinya, Ibu tiri tersebut pergi entah kemana, sedangkan anaknya dibiarkan menunggu di rumah tanpa diberi makan. Karena kedua anaknya itu tidak kuat menahan lapar, akhirnya kedua anak tersebut memberanikan diri untuk melanggar pesan ibu tirinya. 

Saidah yang pada awalnya takut kepada ibu tirinya, tetapi karena dia tidak sampai hati melihat adiknya kelaparan, maka dimasaklah beras tersebut. Tiba-tiba ibu tirinya datang dan mengetahui beras dan uangnya dipakai, dia akhirnya memarahi kepada kedua anak tirinya tersebut. 

Saat sedang dimarahi oleh ibu tirinya tersebut, ayahnya datang. Dengan wajah yang sedih kedua anaknya itu merangkul ayahnya demikian pula ayahnya pun merangkul kedua putera dan puterinya tersebut. 

Melihat kedua anaknya yang sangat kurus tersebut, Ki Sarkawi balik memarahi ibu tirinya yang sangat kejam itu, dan dia bermaksud akan menceraikan isterinya tersebut. Karena dia takut dicerai oleh suaminya maka isterinya pergi ke dukun dengan maksud agar suaminya sayang kepadanya dan dengan sendirinya akan membenci kedua anaknya. 

“Pa, kalau engkau sayang kepada saya, buanglah kedua anakmu itu”, demikian kata isterinya kepada Ki Sarkawi. Dengan cepatnya Ki Sarkawi menjawab “Baik bu, akan saya turuti segala kehendakmu”. Dia sudah terkena guna-guna dari dukun isterinya sehingga tanpa ada perasaan bersalah atau menolak dia menuruti perintah isterinya. 

Malam hari ketika kedua anaknya itu sedang tidur nyenyak, dibangunkanlah oleh ayahnya. Saidah dan Saenih pun terkejut, kemudian dia bertanya “Mau kemana ayah, pagi-pagi kami dibangunkan?” Kata Saidah. 

“Mau ke pasar nak, mari kita bersenang-senang, biarkanlah ibu tirimu” jawa ayahnya. Kedua anak tersebut tidak mempunyai pikiran buruk sedikitpun kepada ayahnya bahwa mereka akan dibuang ke dalam hutan. 

Saenih tiba-tiba meminta minum kepada ayahnya, Ki Sarkawi terlihat bahagia mendengar keinginan anaknya tersebut. Karena dia berpikir bahwa inilah saatnya yang tepat untuk meninggalkan kedua anaknya. 

Setelah sekian lama pergi, ayahnya tidak pernah kembali untuk membawakannya air minum. Sehingga anaknya dibiarkan ditinggal di dalam hutan tanpa ada persediaan makanan dan minuman. Ini dilakukan oleh Ki Sarkawi karena cintanya kepada isteri mudanya. 

Karena lelah kedua anak tersebut menunggu ayahnya akhirnya Saidah pergi menyusul ayahnya, sedangkan adiknya ditinggal seorang diri di tengah hutan. Sewaktu Saenih menangis di tengah hutan tiba-tiba datanglah seorang kakek yang kemudian menanyakan sebabnya dia ditinggal di tengah hutan. 

Dia kemudian menceritakan permasalahannya kepada kakek tua tersebut, mendengar cerita Saenih tersebut, kakek itu bersedia membantu Saenih asal mau hidup sederhana. Saenih senang mendengar ucapan kakek yang akan mengurusnya itu. 

Berbulan-bulan dan bertahun-tahun Saenih tinggal bersama kakek tersebut, hingga pada suatu hari di suatu kampung ada pertunjukan tarling. Sang kakek menyuruh Saenih pergi menonton tarling tersebut dan kebetulan dalam pertunjukan tersebut kekurangan ronggeng. Saenih dipaksa untuk menyanyi dan akhirnya dia pun mau menyanyi. Karena dia baru belajar banyak orang yang mengejek karena suaranya jelek. 

Akhirnya dia minta petunjuk kepada kakeknya, bagaimana agar dia disukai banyak orang. Kakek pun berpesan jika ingin pandai dan ingin bahagia, janganlah menyanyi lebih dari tengah malam (Kalau sekarang jam 12 malam). Dan jangan menerima uang pemberian lebih dari seratus rupiah (Sekarang setara dengan satu juta rupiah). 

Karena mujarabnya mantera sang Kakek, maka Saenih pun terkenal kemana-mana. Lama kelamaan akhirnya dia bertemu dengan kakaknya Saidah. Karena terkenalnya akhirnya Saenih menjadi kaya raya. Tetapi sebagaimana kita ketahui bahwa segala kesenangan dan kekayaan di dunia ini tidak ada yang kekal. Sehingga dia lupa akan janjinya dengan sang Kakek. 

Ketika Saenih sedang enak-enaknya menyanyi, seolah-olah ada kereta api lewat. Saenih membicarakan hal tersebut kepada kakaknya. “Kak mengapa di depan kita ini ada benda hitam menuju ke sini” kata Saenih. “Itu adalah kereta yang kelak akan menjemputmu, sedangkan yang mengepul di atasnya adalah kemenyan supaya badanmu jadi harum, demikian jawab Sang Kakak. 

“Oh, begitu kak” Saenih tiba-tiba mengeluarkan air mata, “Kalau begitu saya akan mati, tapi tak apalah, kalau memang sudah takdir saya. Tolong sampaikan pesan saya, bawalah gelang dan kalung serta koper serta isinya untuk pengganti beras dan uang yang saya pakai dahulu’, jawab Saenih kepada kakaknya. 

Maka koper beserta dengan isinya tersebut diberikan kepada Kakaknya dan akan diserahkan kepada ayahnya di rumah orang tuanya tersebut. Sang Ayah tidak kuasa menahan tangis menerima kiriman dan pesan dari adiknya tersebut. Sang Kakak pun kemudian ijin kembali lagi ke rumahnya. 

Ibu tiri dan ayahnya mendengar bahwa anaknya sudah kaya raya dan tinggal di Desa Kali Sewo ingin berjumpa dengannya apalagi kekayaan keduanya sudah habis sehingga dia menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa lagi. Kedua suami isteri tersebut merangkul anak laki-lakinya Saidah dan dia pun menyesali perbuatan jahatnya dulu. 

Ki Sarkawi bertanya kepada anaknya, “Nak, kemana Saenih sekarang?”, Dia pun menjawab bahwa Saenih sudah meninggal dunia, dan dia menceritakan bahwa dirinya disuruh oleh Saenih untuk memberikan koper dan seisinya kepada ayah dan ibu tirinya sebagai pengganti beras dulu yang pernah dipakainya. 

Ayahnya kemudian pulang kerumahnya melalui jembatan Sungai Sewo. Waktu kedua orang tua tersebut menyeberangi sungai Kali Sewo keduanya jatuh ke sungai dan tenggelam ke dalam sungai tersebut. Mungkin sudah takdirnya kedua suami isteri tersebut meninggal di sungai Sewo dan dikuburkan di pinggir Kali Sewo. 

Sampai sekarang kuburan di pinggir Kali Sewo tersebut masih ada dan tidak heran jika banyak orang yang melemparkan uang receh saat melintas di jembatan Sewoharjo perbatasan Subang dengan Indramayu sebagai tolak bala. 

Cerita rakyat ini dikutip dari Buku Sejarah Indramayu Karya H.A Dasuki.

0 komentar:

Post a Comment test