Asul-usul Desa Krangkeng

Tuesday, October 17, 2017
Balai Desa Krangkeng (Gambar Cirebontrust)

Krangkeng adalah nama Desa dan Kecamatan yang ada di sebelah timur Kabupaten Indramayu. Penamaan desa Krangkeng tentu bukan tanpa dasar dan sebabnya. Krangkeng sendiri artinya adalah Kandang Macan. Karena menurut cerita orang dulu di daerah ini terdapat banyak macan atau harimau. Mau tau cerita asal-usul desa Krangkeng?, berikut ceritanya : 


Pada zaman dahulu di tempat ini tinggallah seorang puteri dari Mataram yang bernama Nyi Gede Empu Meganggong. Dia nyabda guru atau menuntut ilmu kepada Syarif Hidayatulloh di Cirebon. Dia belajar berbagai ilmu bersama temannya seorang puteri Solo bernama Ratu Pringgabaya yakni puteri dari Sultan Aju. 

Karena ketekunannya maka kedua puteri tersebut bisa menyelesaikan berbagai ilmu yang diberikan oleh Syarif Hidayatulloh. Akhirnya Syarif Hidayatulloh menempatkan kedua wanita tersebut di suatu tempat yang digunakan untuk mempraktikan ilmunya tersebut. 

Nyi Gede Empu Meganggong ditempatkan di hutan Andagasari (Sekarang Krangkeng). Hutang Andagasari merupakan tempat bersemayamnya makhluk halus bernama Nyi Gede Andagasari. Sedangkan Ratu Pringgabaya ditempatkan di sebelah timurnya yakni bernama Kapringan. 

Selama tiga bulan Nyi Gede Empu Meganggong melakukan pengembaraan di hutan Andagasari dia dapat menaklukkan binatang buas termasuk macan atau harimau dan mengandanginya di dalam Krangkeng hingga akhirnya daerah tersebut diberi nama Krangkeng. 

Setelah menjalankan tugasnya di hutan Andagasari akhirnya Nyi Gede Empu Megnggong pulang ke Mataram untuk dinikahkan oleh orang tuanya. Dari perkawinan tersebut dia mempunyai anak kembar laki-laki dan perempuan. 

Masing-masing diberi nama Ki Gede Lokawi dan yang kedua bernama Nyi Gede Lakung. Ki Gede Lokawi sebagai putera laki-laki yang pertama memiliki kesaktian seperti mengerti bahasa ikan dan akhirnya ditugaskan menjaga telaga Karangampel. Sedangkan Nyi Gede Lakung ditugaskan sebagai Nyi Gede Krangkeng dan dikenal dengan julukan Nyi Ayu Gendarsari. 

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, hingga akhirnya kedua anak tersebut beranjak dewasa dan Nyi Ayu Gendarsari dinikahkan dengan Pangeran Danu Wardaya alias Ki Gede Lumut (putera dari Solo). 

Dari perkawinan tersebut mereka memiliki anak kembar bernama Nyi Gede Anjasmara dan Anjasmari. Hingga keduanya besar dan Nyi Gede Anjasmari dinikahkan dengan Sutan Aji (Putera Syarif Hidayatulloh) dan dari perkawinan tersebut memiliki anak bernama Haji Mukoyim. Dan ia memiliki empat anak yang bernama Benda Karep, Buntet, Krangkeng dan Wot Gali. 

Berikut Riwayat Nyi Gede Krangkeng

Nyi Gede Krangkeng mempunyai senjata dua macam, yakni tombak yang bernama Tobok Siwelang dan keris. Dia juga mempunyai murid dari Mataram bernama Pangeran Kembar (Serakit) yang bermaksud akan membuat abdi-abdi pemerintah. 

Pangeran Serakit ini memiliki kesaktian yang sangat tinggi, hingga pada suatu waktu ada beberapa putera dari Indramayu yang bermaksud jahat berjumlah 25 orang. Putera-putera dari Indramayu ini berkuasa di Krangkeng hingga akhirnya terjadi peperangan dengan Pangeran Serakit. 

Tetapi karena jumlahnya tidak seimbang maka Pangeran Serakit mengalami kekalahan. Dia akan dibunuh oleh putera dari Indramayu tersebut tetapi dilarang oleh Ki Gede Blekok (Ki Gede Kutet). Di antara 25 orang tersebut ada yang meninggal di Krangkeng dan dikuburkan di tempat itu yang bernama Ki Gede Jago. 

Tetapi sebenarnya pembunuh anak nakal tersebut adalah Ki Gede Lumut. Ki Gede Lumut sendiri adalah majikan dari Ki Gede Blekok. Hingga akhirnya Ki Gede Lumut diberi penghargaan dengan julukan Pangeran Jagaspati. 

Pada suatu hari ada pedati patroli yang akan menuju ke Cirebon, tetapi tidak sengaja pedati tersebut terperosok di lubang di Kampung Kapetakan. Tetapi pedati tersebut tidak bisa diangkat oleh siapa pun termasuk oleh masyarakat sekitar. Hingga akhirnya diadakan sayembara, bagi siapa saja yang dapat mengangkat pedati tersebut maka akan diberi hadiah pedati lagi. 

Ki Gede Blekok mendengar berita tersebut maka ia pun segera mendatangi tempat tersebut. Dengan bantuan Ki Gede Blekok tersebut, pedati yang tidak bisa diangkat tersebut akhirnya bisa diangkat dan sebagai hadiah selain pedati dia juga mendapat gelar Ki Gede Luber. 

Saat Ki Gede Blekok melakukan perjalan hingga sampailah dia di Karangampel. Disitu semua orang tidak percaya akan kesaktian Ki Gede Blekok, katanya kalau ia benar-benar memiliki kesaktian maka buatlah Kuta Kosod dan sebagai hadiahnya dia akan mendapatkan istri. 

Nyi Ratu Benda yang dicalonkan sebagai isterinya lari ke gunung karena takut dijadikan isterinya. Maka dipasanglah selendang Nyi Ratu Benda akhirnya menyerupai Ki Gede Blekok untuk tidak kawin sampai akhir hayatnya. 

Pedati Ki Gede Blekok hingga kini masih ada dan dipakai oleh orang-orang yang masih percaya pada tradisi lama, yakni apabila kita akan melaksanakan sesuatu supaya berhasil dengan baik maka usap-usaplah pedati tersebut. Sedangkan tanah tempat pedati tersebut dicabut sekarang penuh dengan pohon-pohon.

Cerita ini dikutip dari buku Sejarah Indramayu karya H.A Dasuki 

0 komentar:

Post a Comment test