Asal-usul Desa Juntinyuat, Juntikebon, dan Kedokanbunder

Monday, October 23, 2017
Balai Desa Juntinyuat (Gambar Gemakaryajunti.wordpress.com)

Jika Anda melintasi jalan Indramayu Cirebon melalui Balongan maka Anda akan menemukan desa Juntinyuat yang berada di sekitar pantai Utara Indramayu. Apa dan bagaimana sehingga nama desa tersebut dinamakan Juntinyuat, berikut ceritanya : 


Kerajaan Pajajaran di bawa kekuasaan Prabu Siliwangi memiliki tiga orang putera yang bernama Raden Kuncung Walangsungsang, Nyi Rarasantang, dan Raja Sengara. Pada awalnya ketiga orang puteranya tersebut untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, pada saat bersamaan Raja Mesir yang bernama Raja Utara sedang ditimpa musibah karena permaisurinya meninggal dunia. 


Raja Mesir tersebut ingin mencari isteri lagi tetapi yang wajah dan perilakunya menyerupai isterinya terdahulu. Tetapi dia belum menemukannya, hingga akhirnya Nyi Rarasantang memiliki wajah yang sangat mirip dengan isterinya. 

Kemudian sang Raja berkehendak untuk meminang Nyi Rarasantang untuk dijadikan sebagai permaisurinya. Nyi Rarasantang tidak menolak lamaran dari Raja Mesir tersebut, tetapi sebelum menikah dia memiliki permintaan yakni keinginannya mempunyai 2 anak laki-laki yang keduanya menjadi pemimpin di seluruh dunia. 

Mendengar permintaan tersebut sang Raja terkejut dan dia merasa gelisah karena tidak bisa memenuhi keinginannya. Tetapi tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang mengatakan bahwa “sanggupilah calon isterimu itu, nanti akan saya kabulkan”. 

Beberapa hari kemudian Raja Mesir tersebut menikah dengan Nyi Rarasantang. Hasil perkawinan tersebut dia melahirkan dua orang anak laki-laki yang bernama Syarif Hidayatulloh dan Syarif Ngaripin. 

Beberapa tahun kemudian mereka sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Syarif Hidayatulloh memiliki keinginan untuk menuntut ilmu dengan ingin bertemu langsung dengan Nabi Muhammad S.A.W. Keinginan tersebut membuat Syarif Hidayat dikagumi oleh semua penduduk Mesir. 

Tetapi juga banyak yang mencibirnya karena menganggap Syarif Hidayatulloh itu orang gila dan beberapa kali dipenjara karena dianggap tidak waras. Tetapi dia bisa meloloskan diri dari penjara dan pergi ke Tiongkok (China). 

Di negeri Tiongkok, Syarif Hidayatulloh dianggap oleh masyarakat sekitar bisa mengobati orang yang sakit atau disebut sebagai dukun. Bahkan orang yang hampir meninggalpun dia bisa disembuhkan kembali oleh Syarif Hidayatulloh. 

Berita ini tersiar kemana-mana hingga akhirnya sampai ke telinga Raja Tiongkok bernama Tikongki. Dia mendengar kemampuan Syarif Hidayatulloh yang begitu mustajab dalam menyembuhkan orang sakit sehingga akhirnya dia memanggil Syarif Hidayatulloh untuk datang ke istananya. 

Sang Raja ingin mengetahui kepandaian dan kesaktian yang dimiliki oleh Syarif Hidayat dan kebetulan anaknya yang bernama Ong Tien diminta untuk berpura-pura hamil dan meminta Syarif Hidayat untuk menebak jenis kelamin anak yang dikandungnya tersebut laki-laki atau perempuan. Padahal dia sebenarnya tidak hamil hanya menggunakan bokor untuk mengelabuhinya. 

Syarif Hidayatulloh menebak bahwa bayi yang ada di dalam kandungan puteri raja tersebut adalah perempuan. Mendengar jawaban dari Syarif Hidayat tersebut mereka tertawa terbahak-bahak dan puterinya diminta untuk membuka perutnya dan ternyata dia benar. 

Sang Raja sangat marah dia kemudian menyuruh patihnya dan pengawalnya untuk menangkap Syarif Hidayat. Syarif Hidayat melarikan diri ke laut dan terjun ke laut sehingga tidak ditemukan oleh patih dan pengawalnya. Patih kemudian pulang ke istana dan menceritakan kepada sang Raja. 

Di luar dugaan sang puteri jatuh hati kepada Syarif Hidayat dan menyusul ke Cirebon. Raja Titongki merasa kehilangan anak, maka diutuslah beberapa punggawa di bawah pimpinan Dampu Awang membawa dua gerobak perhiasan emas permata untuk bekal hidup sang puterinya menuju ke Cirebon. 

Perjalanan Syarif Hidayat menurut cerita setelah bertemu dengan Nabi Muhammad sampailah di Gunung Jati dan bertemu dengan Syeh Datul Kahfi dan mendapat banyak ilmu tentang Islam dan juga bertemu dengan Walangsungsang sang uwaknya. 

Perjalanan putri raja Titongki pun sampai juga di Jawa tepatnya di pesisir Junti dan ditolong oleh Ki Gedeng Junti dan diantar menemui Syarif Hidayat di Pakungwati dan menetap disana. Ki Ageng Junti mempunyai puteri yang bernama Nyi Ageng Junti dan membuat rumah di tegalan pantai Junti. 

Karena di tepi laut ada pohon yang rantingnya nyongat (menyolok) ke laut maka tempat itu dinamakan Juntinyuat. Saat berada di pantai di sebelah selatannya ada orang yang sedang berkebun, lokasi itu kemudian diberi nama Juntikebon

Tidak jauh dari tempat itu, atau tepatnya di sebelah baratnya terdapat kedokan yang berisi air kemudian kedokan tersebut diperbaiki dan diperpanjang, maka tempat itu kemudian diberi nama Juntikedokan

Dampu Awang yang diperintah Raja Tikongki pun akhirnya mendarat di pesisir yang sama di Junti setelah sekian lamanya mencari sang putri akhirnya di pesisir Junti, Dampu Awang bertemu dengan Ki Ageng Junti dan menanyakan arah ke Cirebon. 

Pada saat bertanya tersebut dia dan rombongan melihat puteri Ki Gedeng Junti yang bernama Nyi Ageng Junti yang berparas cantik jelita dan Dampu Awang tertarik ingin menikahinya. Tetapi Nyi Ageng Junti tidak suka dengan Dampu Awang karena berperawakan gendut dan tidak beragama Islam. 

Ki Gedeng Junti merasa kurang enak jika langsung menolak lamaran Dampu Awang karena Nyi Ageng Junti tidak menyukai Dampu Awang yang gemuk dan tidak beragama Islam. Ki Ageng Junti membuat rencana penolakan halus dengan memberi syarat Dampu Awang harus bisa menembus pagar pekarangan rumah Nyi Ageng Junti yang tersusun dari pohon bambu Ori selebar setinggi orang dewasa dalam waktu semalam. 

Dampu Awang menyanggupinya permintaan Ki Gedeng Junti tersebut. Ia kemudian menyebarkan berita bahwa akan mengadakan tawur emas picis rajabrana pada penduduk desa Junti. Mendengar berita itu lalu berbondong-bondonglah penduduk Junti menuju di depan rumah Ki Ageng Junti. 

Begitu malam tiba, Dampu Awang mulai menabur recehan emas pada rumpun bambu yang memagari pekarangan Ki Ageng Junti itu. Penduduk berebut mendapatkan emas dengan cara menebas bambu ori tanpa tahu kenapa Dampu Awang berbuat seperti itu.

Satu demi satu rumpun bambu itu pun akhirnya rusak dijebol warga yang berebut emas. Usaha Dampu Awang berhasil, akhirnya benteng pekarangan Ki Gedeng Junti bisa ditembus. Di mata Ki Gedeng Junti, perlakuan Dampu Awang tersebut dianggap curang. 

Ia dan puterinya akhirnya melarikan diri menuju gunung Sembung. Karena lelah dia akhirnya berhenti sejenak, tempat dia berhenti tersebut dinamakan Sudimampir. Saat berada di desa Sudimampir dalam pelariannya Nyi Ageng Junti terjatuh ke sawah karena kakinya menyangkut padi ketan hitam hingga dia nyaris tertangkap. Nyi Ageng Junti meminta agar kelak warga desa Sudimampir dilarang menanam ketan hitam. 

Sesampainya di gunung Sembung mereka menemui Syeh Bentong untuk mohon perlindungan dari kecurangan Dampu Awang. Ki Ageng Junti berjanji akan menyerahkan puterinya agar diperisteri Syeh Bentong dan Syeh Bentong menyembunyikan Nyi Ageng Junti dipucuk pohon Gebang maka desa tersebut dinamakan Ujunggebang. 

Pengejaran Dampu Awang sampai di Gunung Sembung dan bertemu Syeh Bentong yang kemudian terjadi perang mulut hingga perang fisik yang akhirnya dimenangkan Syeh Bentong. Akhirnya Syeh Bentong memperisteri puteri Nyi Ageng Junti dan menetap di desa Ujunggebang. 

Itulah cerita tentang asal-usul desa Juntinyuat, Juntikebon, Kedokanbunder, Sudimampir dan Ujunggebang Susukan Cirebon. Cerita tersebut dikutip dari buku Sejarah Indramayu karangan H. A. Dasuki dan dari sumber lain.

0 komentar:

Post a Comment test