Mengenal Sejarah Indramayu Dari Buku Sudut Djedjak Indramajoe Tempoe Doeloe

Sunday, June 26, 2016
Foto bareng penulis bukunya Nang Sadewo (Kiri) dan Roni (Blogger Indramayu)

Mengenal sejarah bukan berarti harus datang ke tempat yang dimaksud tetapi juga bisa melalui literasi berupa buku. Demikian pula saat ingin mengenal satu kota atau wilayah termasuk kota Indramayu dulunya seperti apa tentu datang langsung ke Indramayu menjadi salah satu solusinya tetapi bagi mereka yang tinggal jauh dari Indramayu tentu cukup dengan membaca dari buku atau internet. 


Buku yang bisa menjadi acuan untuk mengenal Indramayu pada zaman dahulu salah satunya adalah Buku Sudut Djedjak Indramajoe Tempoe Doeloe karya dari Nang Sadewo. Buku setebal 175 halaman ini akan mengungkap sisi lain dari kota Indramayu tempo dulu yang dikenal sebagai pusat perdagangan, pusat kota, dan pusat pelayaran ternama di pulau Jawa. 
Buku Sudut Djedjak Indramajoe Tempo Doeloe


Buku yang terdiri dari 7 bab ini terdiri dari berbagai hal menarik seputar Indramayu. Pada bab 1 mengulas tentang Relung Cimanuk. Sungai yang membelah kota Indramayu ini dulunya dijadikan pelabuhan satelit disamping Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta. Peran pelabuhan ini sangat vital untuk mengirim bahan pokok atau hasil pertanian seperti beras, buah-buahan yang memang banyak berasal dari wilayah Indramayu dan sekitarnya. 
Relung Cimanuk

Sungai Cimanuk juga memiliki jembatan (sekarang lokasinya dekat masjid agung dan pendopo Indramayu) yang memiliki berbagai nama dari Kreteg Gantung, Kreteg Sorog dan sekarang menjadi jembatan Cimanuk. 

Buku ini menariknya dilengkapi dengan berbagai gambar tempo dulu yang didapat oleh Nang Sadewo tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai ke luar negeri tepatnya di negeri Belanda yang memang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia sebagai negara penjajah. 
Pedukuhan Cimanuk

Sementara pada Bab 2 yang berjudul Padukuhan Cimanuk, Nang Sadewo mengungkapkan dalam buku ini tentang aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Cimanuk dari membuat perahu, membatik, menganyam jala, menganyam, berjualan pindang, membuat wayang golek menak, dan lain sebagainya. 

Wajah Kota dan Masyarakat

Pada bab 3 Nang Sadewo menuliskan hal menarik tentang Wajah Kota dan Masyarakat. Dalam sudut pandangnya Indramayu merupakan suatu daerah yang terbuka untuk semua orang maka tidak heran jika Indramayu sudah ada etnis China, India, Belanda, dan Arab bahkan menetap memiliki keturunan hingga akhir hayatnya. 

Nang Sadewo juga mengungkapkan beberapa foto setelah kemerdekaan dengan beragam kegiatan mulai dari seni musik gambus, jaran lumping, dan beberapa kegiatan lainnya termasuk dalam bidang pendidikan. Dengan datangnya bangsa-bangsa lain ke Indramayu maka agama yang dianut pun mulai ada perubahan salah satunya dengan munculnya gereja Kristen Pasundan di Desa Juntikebon. Pada bab berikutnya Nang Sadewo memberi judul Napak Tilas. 
Napak Tilas
Dalam bab 4 ini dijelaskan tentang beberapa ikon dari kota Indramayu seperti Pendopo Indramayu, Masjid Agung Indramayu yang merupakan hibah dari seorang mualaf keturunan Tionghoa bernama Thip Tjoe Teng, makam Raden Aria Wiralodra, Makam Selawe, Klenteng An Tjeng Bio, Gereja GKI dan masih banyak tempat-tempat yang memiliki nilai histori bagi Indramayu. 
Hitam Putih
Pada bab ke-5 Nang Sadewo memberinya judul Sudut Hitam Putih. Di bab ini dipajang berbagai foto hitam putih tentang berbagai hal menarik dari Indramayu seperti patok 0 km, Pal penanda kota, bolder yang berfungsi sebagai penambat kapal niaga pada zaman Belanda, gedung penggilangan padi, makam Belanda dan lain sebagainya. 

Pada bab ke-6 Nang Sadewo mengulas tentang Pemerintahan di Indramayu dari sejak masa kolonial Belanda hingga sekarang. Indramayu pada masa kolonial Belanda terdiri dari dua pemerintahan yakni Pemerintah Sabrang Wetang atau Timur dikuasai oleh seorang bupati dan Assisten Residen Belanda, dan Pemerintah Sabrang Kulon atau Barat dikuasai oleh seorang Kepala Demang dan seorang Administrateur (Tuan Tanah). 
Pemerintahan

Pada bab ini diulas juga tentang keberadaan Masjid Agung Pedukuhan Cimanuk atau Masjid Makam Selawe, Masjid Agung Indramayu, Stasiun Kereta Api Jatibarang, dan potret pejuang dari Indramayu yakni M.A. Sentot Sutadjaya Winangun. 

Dan pada bab terakhir, Nang Sadewo mengulas tentang Bupati Indramayu dari masa ke masa. Menurut catatan sejarah nama Raden Singalodra atau Wiralodra I adalah bupati pertama di Indramayu yang dulu bernama Sindang dan berganti nama menjadi Dermayu. 

Bupati Indramayu dari masa ke masa

Pada buku ini terdapat foto-foto bupati dari masa R. Djalari (Purbadinegara I) yang menjabat dari tahun 1890 – 1900, kemudian digantikan dengan R. Rolat yang menjabat dari tahun 1900 – 1917, hingga sekarang di bawah pemerintahan Bupati Indramayu Ibu Hj. Anna Sophanah. 

Buku karya Sulaiman Indrajaya atau yang lebih dikenal dengan Nang Sadewo ini akan memberi warna bagi generasi muda sekarang untuk mengenal Indramayu lebih luas lagi. Mengenal Indramayu dari foto-foto tempo dulu yang merupakan bagian dari sejarah Indramayu saat ini. 

Jika Anda tertarik dengan buku Sudut Djedjak Indramajoe Tempoe Doeloe Karya Nang Sadewo dibanderol dengan harga Rp.150.000,- belum termasuk ongkos kirim silakan menghubungi No. HP. 081222051524 (WhatsApp).

0 komentar:

Post a Comment test