Menyusuri Petilasan Nyi Ratu Dayang Sumbi

Sunday, July 5, 2015
Batu Petilasan Pemandian Nyi Ratu Dayang Sumbi (Foto Saridin) 

Menghabiskan waktu puasa sambil ngabuburit memang menyenangkan apalagi menyusuri obyek-obyek wisata yang belum dikenal oleh masyarakat luas karena lokasinya yang ada di dalam hutan dan jalanan yang belum bisa dilalui oleh mobil pribadi.

Hari ini kami bersama rekan-rekan satu profesi yakni Tomi dan Badawi mengunjungi beberapa obyek wisata yang masih asli karena berada di hutan perbatasan Indramayu dan Sumedang. Obyek wisata ini merupakan petilasan-petilasan para leluhur yang belum banyak dikenal oleh masyarakat.


Pintu Tol Cikedung 

Untuk menuju obyek wisata ini Anda harus menggunakan sepeda motor dan disarankan motor trail atau sepeda motor yang posisinya agak tinggi karena banyak bebatuan. Sebagai patokan untuk menuju obyek wisata ini tidak jauh dari pintu keluar tol Cikedung. Kurang lebih satu kilometer ada masjid Baiturohim Blok Lajem Desa Cikawung Kecamatan Terisi belok kiri.

Masjid Baiturohim Lajem Cikawung 

Setelah Ambil kiri Anda akan menapaki jalan yang masih diaspal tetapi selama satu kilometer jalanan sudah berbatu tanpa aspal dan jalanan semakin menyempit. Di kanan kiri terdapat pemandangan pohon jati dan rerumputan. 

Jalanan berbatu dan berpasir menuju lokasi

Setelah lanjut menyusuri jalan tersebut ada SMP Negeri 1 Atap Satu Terisi Anda ambil jalan kiri terus sampai daerah perumahan penduduk yang mayoritas menggunakan panggung dan bertembok papan.


Anda akan menemukan mushola ini lalu Anda ambil ke kanan memasuki jalan setapak dan memasuki hutan jati. Di sini Ada jalanan menanjak dan sangat ekstrim, disarankan naik sepeda motor sendirian jangan berdua, karena berbahaya jalannya.

Jalanan setapak, berpasir, naik dan turun 

Setelah melewati jalanan naik dan turun serta dikanan kiri pohon jati, Anda akan menikmati pemandangan yang indah yakni bukit dengan batu besar di kanan jalan oleh masyarakat sekitar dinamakan petilasan Buyut Gedogan.

Situs keramat Buyut Gedogan 

Setelah puas melihat-lihat pemandangan batu yang besar dengan tumpukan alami di sepanjang bukit tersebut, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Keramat Batu Bubut yang lokasinya tidak terlalu jauh dari petilasan Buyut Gedogan.

Ditemani oleh Saridin dari Jatimunggul yang sedikit banyak mengetahui cerita dan sejarah daerah tersebut kami melanjutkan perjalanan menuju Batu Bubut yang konon merupakan petilasa Ki Jaga Karsa dan Ki Buana Kerti berunding untuk menghancurkan bumi Wiralodra.
Petunjuk arah menuju situs keramat batu bubut 

Di sini Anda akan melihat tulisan petunjuk arah Keramat Batu Bubut saat akan masuk wilayah ini. Di sini Anda akan melihat batu-batuan yang menarik karena ada yang disebut pintu gerbang karena bentuknya besar dan berjejer seperti gerbang.

Rumah di Situs Keramat Batu Bubut

Di tempat ini Anda hanya akan menemukan dua buah rumah penduduk yang menggunakan bilik bambu dan beratapkan genteng. Tapi uniknya untuk sarana penerangan di rumah ini sudah menggunakan tenaga matahari yang terpasang di atas atapnya.

Batu Bubut 

Untuk melihat batu bubut kami harus berjalan kaki sekitar 200 meter dan pemandangan batu-batu yang indah terlihat dihadapan kami. Cuma sekitar batu-batu tersebut sudah terbungkus kain putih yang menandakan bahwa tempat ini adalah tempat keramat.

Foto di depan batu yang digunakan sebagai meja perundingan 

Pada salah satu bagian terdapat batu berbentuk meja yang menurut cerita digunakan sebagai tempat perundingan Ki Jaga Karsa dan Ki Buana Kerti berunding untuk menyusun strategi menghancurkan Wiralodra.

Di sekitar tempat ini terdapat sumber mata air yang sering digunakan para peziarah atau pengunjung yang akan mandi atau buang air kecil. Airnya cukup jernih walaupun musim kemarau tetapi tetap ada airnya dan masih mengalir dari sela-sela bebatuan.

Mata air di Situs Keramat Batu Bubut 

Tempat ini terletak di Desa Ciwado Desa Cikawung Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu ini terdapat beberapa saung kecil yang sering digunakan oleh beberapa pengunjung atau peziarah yang terkadang menginap di tempat ini terutama pada saat malam Jumat Kliwon.

Gua kecil di situs keramat batu bubut 

Tidak puas di sekitar petilasan Batu bubut kami pun mengitari bagian obyek wisata ini. Pada bagian sebelah selatan terdapat gua kecil yang tidak terlalu dalam. Sayang kami tidak masuk ke dalam gua tersebut karena ukurannya hanya sebatas satu orang dan tidak terlalu dalam.

Setelah puas melihat Batu Bubut, perjalanan masih berlanjut ke atas menyusuri hutan dan sungai menuju hulu dari sungai tersebut karena ada petilasan Nyi Ratu Dayang Sumbi yang menjadi legenda dan mitos di wilayah tersebut. Perjalanan menuju petilasan ini ditempuh kurang lebih selama 45 menit perjalanan dengan jalan kaki.
Batu Pewadonan atau mirip kelamin wanita  (Foto Turidi) 

Bagi Anda yang akan menuju petilasan ini menggunakan sepeda motor, sebaiknya sepeda motor di parkirkan di tempat Situs Keramat Batu Bubut. Setelah perjalanan panjang Anda akan menikmati batu yang mirip dengan kelamin perempuan atau “Pewadonan” yang diyakini oleh masyarakat sekitar adalah petilasan pemandian Nyi Ratu Dayang Sumbi.

Sehingga pada waktu-waktu tertentu tempat ini ramai dikunjungi terutama kaum hawa yang ingin berendam di antara batu tersebut, dan setelah mandi di tempat itu, pakaian dalamnya dibuang ke tempat sekitar sehingga tidak heran banyak pakaian dalam yang terlihat di antara bebatuan dan pepohonan di sekitar tempat itu.

Mitos yang berkembang, jika seorang wanita mandi di tempat tersebut maka pesonanya akan terus terpancar dari dalam dirinya. Sehingga biasanya banyak yang datang ke tempat ini terutama para gadis-gadis yang belum menikah atau yang sedang mencari jodoh atau rejeki.

Selain Pewadonan, sebenarnya ada Pelanangan atau batu yang mirip dengan kelamin laki-laki tetapi karena keterbatasan waktu kami belum mengunjungi tempat tersebut. Tempat ini menurut Saridin ramai dikunjungi oleh kaum Adam yang ingin mencari pendamping hidup atau agar tidak jomblo lagi.

Tapi sekali lagi ini hanya mitos atau legenda yang tidak boleh diyakini kebenarannya oleh kita sebagai umat yang beragama dan percaya kepada Allah SWT.

Bagi kami (Blogger Mangga) kegiatan ini semata-mata untuk tujuan mengeksplorasi keindahan alam di Kabupaten Indramayu yang belum tergali dan kalau dikelola secara baik bukan tidak mungkin menjadi obyek wisata yang menarik dan bisa menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitarnya.

6 komentar for Menyusuri Petilasan Nyi Ratu Dayang Sumbi :

  1. Mudah"n aku bisa berkunjung tempat itu, salam dari kami warga tangerang

    ReplyDelete
  2. Saya sudah pernah 2x kesitu kebetulan jarak cuman 2 jam dari rumah,

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah yaa padahal itu deket kampungku tapi aq gaa tauu jd penasaran ky gimanaaa

    ReplyDelete
  4. Saya orang cikamurang...saya harap pemerintah lebih memperhatikan wilayah itu sehingga kedepanya bisa menjadi tmpat tujuan wisata seperti daerah" lain...yang otomatis akan menambah pendapatan daerah ..

    ReplyDelete
  5. semoga pemerintah memperhatikan kawasan itu..

    ReplyDelete
  6. Tempatnya pegunungan ya, ada bebatuan dan gua?
    Salam dari saya, warga kec. Jatibarang

    ReplyDelete