Indramayu Memiliki Segudang Naskah Kuno yang Belum Terungkap

Wednesday, June 24, 2015
Naskah Kuno

Kabupaten Indramayu sebenarnya menyimpan banyak naskah kuno yang bisa mengungkap sejarah tentang Indramayu. Sayangnya naskah-naskah tersebut disimpan oleh para sesepuh atau orang tua dan mereka menganggap sebagai pusaka warisan dari leluhur yang tidak boleh dibuka atau hilang. 


Naskah-naskah kuno itu tersebar di berbagai kecamatan di Indramayu, seperti di Lohbener, Gabuswetan, Indramayu, Karangampel dan kecamatan lainnya. Cuma sayangnya para sesepuh enggan memberikan naskah-naskah kuno kepada pihak yang berkepentingan untuk diungkap isinya. 


Bapak Tarka
Beruntung Indramayu memiliki salah satu tokoh pengungkap naskah kuno seperti Bapak Tarka dari Cikedung yang dengan kemampuannya mampu mengungkap naskah-naskah kuno tidak hanya dari Indramayu tetapi dari daerah lain bahkan negara lain. 

Baru-baru ini Bapak Tarka Sutarahadja kembali menerima naskah kuno dari Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma’arif Legok Lohbener Indramayu. Naskah yang tertulis di Dluang dan Lontar sepanjang kurang lebih 7 meter ini berasal dari Situs Prabu Geusan Ulun Legok, Lohbener Kabupaten Indramayu. 

Berdasarkan hasil analisa sementara terhadap tulisan Arab Pegon dan aksara Jawa Naskah Dluang dan Lontar di Situs Prabu Geusan Ulun Legok, Lohbener Indramayu : 

Kyai H. Munaji A. Pengasuh Ponpes Darul Ma’arif, Legok Lohbener, Indramayu. Kertas Dluang terbuat dari bahan kulit kayu saeh, setelah diolah melalui tahapan tertentu maka jadilah kertas yang siap ditulis. 

Secara umum penggunaan kertas dluang dimanfaatkan setelah era penulisan pada daun lontar. Posisi kedua benda itu sangat banyak merekam jejak peninggalan budaya masa lampau di Nusantara. Situs Prabu Geusan Ulun Legok Lohbener meninggalkan beberapa Benda Cagar Budaya [BCB] yang teramat penting, diantaranya Naskah Kertas Dluang dan Lontar. Situs tersebut adalah sebagai bukti akan jejak Kerajaan Sumedang Larang tempo dulu di wilayah Indramayu. 

Naskah Kertas Dluang Legok sepanjang ± 7 m ini mengandung dua buah informasi yang sangat penting, sisi pertama mencantumkan kandungan ilmu agama Islam. Sedangkan dari sisi sebaliknya berisikan uraian silsilah yang mencakup ; Pajajaran, Mataram, Cirebon, Banten. Beberapa nama auliya Jawa tertulis didalamnya seperti : Sunan Gunung Jati Cirebon, dan nama wali lainnya. Demikian juga nama-nama Pangeran, Ki Gedeng, Kabuyutan Lakbok dan Alas Roban. 

Nama-nama seperti : Pangeran Sebakingkin Banten, Ki Gedeng Sesela [Ki Ageng Sela, Mataram], Nyi Ageng Pancoran putri Sunan Bonang, demikian juga nama Kabuyutan trah dari Pajajaran dari bangsa halus ikut tertulis dalam naskah tersebut. Bahkan tertulis nama seorang Ki Gede yang telah “sumurup maring walanda” sumurup bisa berarti masuk, menjadi bagian daripada Bangsa Belanda kala jaman penjajahan. Hal ini diperkuat, menurut cerita bahwa pada tahun 1970-an ada seorang Belanda yang mendatangi Kuncen Situs Makam Prabu Geusan Ulun, ia menanyakan tentang silsilah yang tertera pada Naskah Dluang serta berpesan agar silsilah itu supaya dirawat dengan baik. 

Dari sebagian nama-nama yang tertera dalam Naskah Dluang Legok, tertulis juga dalam Naskah Kuno yang pernah diterjemahkan oleh Ki Tarka Sutarahadja ; Babad Cirebon Carub Kanda Naskah Tangkil [2012], Sejarah Cirebon Naskah Keraton Kacirebonan [2012], Carang Satus [2015] Dok. Foto Naskah milik RBN Nusantara Pesambangan Jati Cirebon dan Carang Seket alih bahasa oleh TD. Sujana. 

Para Kabuyutan adalah putra-putri dari Prabu Galuh Purwa Prabu Rayana dan Prabu Siliwangi. Mereka beranak pinak dan menguasai beberapa wilayah dalam alam kajineman, seperti di Alas Roban, Tunjung Bang, Rawa Lakbok dan lain-lain. Meskipun ada yang berbeda keyakinan mereka para kabuyutan itu [makhluk halus] diantaranya bertugas untuk menjaga anak cucu Pajajaran yang menjadi raja/pembesar ataupun mereka yang telah dikudratkan olehNya. Mereka juga menjaga bangunan-bangunan keraton, pecanden ataupun petilasan-petilasan lainnya, oleh itu tak jarang jika pada tempat-tempat tertentu terlihat angker ataupun wingit, bahkan ada kabuyutan yang menampakan diri dengan berupa haimau besar dan lain-lain.

Ki Tarka Sutarahardja. Modin Aksara Jawa RBN Pesambangan Jati Cirebon & Ketua Sanggar Aksara Jawa, Indramayu Kata lontar berasal dari Ron-tal, yang berarti daun tal. Namun dalam pelapalan masyarakat Indramayu lebih mengenalnya dengan sebutan lontar, bahkan daun lontar itu ada yang menamainya Godong Siwalan. Pelepah daun lontar bisa ditulis untuk mencatat hal-hal yang penting berupa ; babad, mantra, primbon, dan lain-lain. Temuan lontar Legok merupakan BCB yang sangat berharga, yang harus segera dirawat agar tidak menjadi lebih rusak dari keadaanya yang sekarang. Semoga saja kedepan semakin banyak pihak yang peduli akan temuan ini. 

Dari analisa sementara terhadap tulisan yang terdapat pada kepingan-kepingan lontar dapat disimpulkan sebagi berikut : 


  1. Terdapat kata ; Petak 10, Petak 12, Petak 60, Petak 100 Sangat dimungkinkan dari catatan ini menunjukan kepemilikan lahan berupa sawah ataupun kebun penduduk. 
  2. Penomoran Keping Lontar, ada yang menunjuk angka 129 dan ada juga yang diikat terdiri dari beberapa pelepah Diyakini awalnya tumpukan lontar itu sudah dikelompok-kelompokan menjadi beberapa bagian serta disusun dalam bagian-bagian tertentu. Sepertinya lontar itu ditulis secara berkala dalam kurun waktu tertentu pula dan berkesinambungan sebagai bentuk pelaporan. 
  3. Terdapat kata ; tapan reged 20 sangga, puragane [sekian/menunjuk nilai angka] sangga, jakate 20 gedeng. Dari uraian ini menggambarkan hasil panen dari penduduk, tapan reged atau tumpukan kotor terdiri dari 20 sangga. Dalam panen jaman dahulu, sebelum ada karung ataupun kandek, petani menyimpan hasil panenya di dalam lumbung atau kamar khusus dengan cara menumpuk. Adapun padi tersebut diikat tali sudah berbentuk gedengan, kalau tidak salah untuk 10 gedeng sama dengan 1 sangga, jadi satu tapan/tumpukan berisikan 200 gedeng atau 20 Sangga. Puragane diperkirakan mengadung makna susut dan diwajibkan juga membayar zakat panen sebesar 1 gedeng untuk 1 sangga. 
  4. Mirip Data yang dipegang oleh : Sekdes / Tua Desa / Bekel  Seperti Nama-nama penduduk pada saat itu. 
  5. Dalam keping lontar menyebutkan nama Desa Legok dan catatan nama-nama penduduknya. 
  6. Dalam keping yang lain menyebutkan juga sewaktu dibuat marga agung / jalan besar, dikeping itu tercatat nama-nama penduduk, serta kolom yang menyebutkan angka. Sepertinya satuan angka itu menyebutkan nama luas sawah atau kebun penduduk yang terkena pembuatan jalan besar. Jika boleh diprediksi mungkin jalan besar itu adalah ketika Gubernur Jenderal Dendeles Batavia membuat jalan tembus dari Anyer sampai Panarukan, dengan demikian Desa Legok menjadi salah satu desa yang terkena oleh proyek kerja rodi tersebut. 
  7. Terdapat angka tahun 1850 pada sebuah naskah Kertas Eropa yang sudah rusak. 
Dengan penemuan naskah-naskah kuno ini tentu akan membuka sejarah baru yang selam ini belum terungkap. Untuk itu bagi Anda yang memiliki naskah-naskah kuno bisa diberikan kepada Bapak Tarka di Desa Cikedung Lor. Naskah tersebut akan dikembalikan lagi setelah diteliti agar terungkap isi dari naskah kuno tersebut. 


Sebagian tulis ini diambil dari Facebook Bapak Tarka Hanacarakajawa 

2 komentar for Indramayu Memiliki Segudang Naskah Kuno yang Belum Terungkap :

  1. Silsilah prabu geusan ulun tdk dijelaskan..siapa,darimana,bagaimana prabu geusan ulun...dari kata prabu tentu saja memiliki daerah pemerintahan dibawah kekuasaannya...yg mengetahui harap bisa menjelaskan dg singkat saja..

    ReplyDelete