Budaya Dermayu Tetap Menarik Untuk Dipelajari

Sunday, June 7, 2015
Peserta Bedah Buku Budaya Dermayu (Foto Bintang Book Corner)

Dermayu atau Indramayu, ternyata selalu menjadi daya tarik tersendiri dalam berbagai hal. Dari wisata, kuliner, sejarah, batik hingga seni dan budayanya. Walaupun tidak banyak generasi muda yang tertarik mempelajari seni dan budaya Dermayu tetapi bagi sebagian orang tetap merasa tertarik mempelajari budaya Indramayu. 

Indramayu yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan ini memiliki beragam adat istiadat, seni dan budaya yang hingga sampai saat ini tetap di pertahankan. Seperti budaya sedekah bumi, mapag Sri, ngunjung, baritan, nadranan, ngarot dan lain sebagainya.

Bertempat di English Village Jalan Cendana VI Kompleks Griya Asri I Indramayu acara diskusi Budaya Dermayu pun digelar untuk mengingatkan kembali tentang jati diri orang Indramayu. Acara ini menjadi menarik karena dihadiri oleh budayawan Indramayu Supali Kasim dan Saptaguna. 

 Sebelum mulai kegiatan sang moderator acara diskusi ini yakni Sefudin membuat ice breaker menarik dengan memberikan pilihan untuk menguji pengetahuan tentang seni dan budaya peserta. Diantaranya adalah peserta diajak memilih salah satu kuliner, seni, budaya dari Indramayu. Seperti nadran atau ngarot, blendung atau krawu, burabcek atau iwak manyung, dan lain sebagainya. 

Setelah itu baru dimulai bedah buku “Budaya Dermayu” oleh Supali Kasim. Dia menjelaskan budaya dermayu tidak terlepas dari sejarah Indramayu yang menurut dia masih terdapat beberapa kekurangan karena literaturnya hanya pada salah satu buku tidak mencari buku pendukung yang lain. Literatur yang ada pun baru sebatas babad bukan sejarah. Sehingga menurut dia harus diluruskan. 

Selain itu menurut Supali Kasim, budaya dermayu tidak bisa lepas dari budaya Hindu-Budha, Bangsa Eropa yang telah menjajah Indonesia dan tentu budaya Islam. Dia menjelaskan sisa-sisa peninggalan Hindu-Budha masih melekat pada budaya dermayu dari kebiasaan mengadakan sesaji untuk beberapa kegiatan adat seperti sedekah bumi, magap Sri, nadran dan lain sebagainya tetapi setelah agama Islam masuk dan diterima oleh masyarakat dermayu atau Indramayu, acara tersebut kemudian menggunakan cara-cara Islam seperti menggunakan do'a-do'a menurut Agama Islam. 

Budaya Islam di Indramayu disebarkan oleh beberapa tokoh seperti Ki Kuwu Sangkan, Sunang Gunung Jati dan lain sebagainya. Sementara pengaruh bangsa Eropa pun mempengaruhi sebagian masyarakat Indramayu dengan berdirinya beberapa gereja di Indramayu. Buku Budaya Dermayu karya Supali Kasim juga mengungkap beberapa seni dan budaya yang ada di Indramayu. Buku ini dia sebut sebagai buku Babon yang merupakan gambaran menyeluruh mengenai Indramayu. Jadi jika Anda membaca buku ini seolah-olah Anda hidup di Indramayu berpuluh-puluh tahun, demikian menurut Supali Kasim. 

Foto Bersama Supali Kasim (Foto Bintang Book Corner)

Setelah pemaparan mengenai Budaya Dermayu oleh Supali Kasim, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Beberapa peserta menanyakan beberapa hal seperti sejarah kerajaan Manuk Rawa yang ada pada abad 4 – 5 Masehi konon menjadi cikal bakal Indramayu, perbedaan logat dan bahasa di antar warga Indramayu sendiri, dan sejarah Indramayu. 

Pada kesempatan ini Supali Kasim menjelaskan bahwa Kerajaan Manuk Rawa tersebut tertulis dalam salah satu literatur yang menurut dia masih butuh penelitian lebih lanjut. Begitu juga dengan Prasasti Wiralodra yang sebenarnya tertulis pada sebuah daun lontar bukan prasasti. Mengenai perbodaan logat dan bahasa, Supali Kasim mengakui bahwa di beberapa daerah terdapat perbedaan bahasa seperti di daerah Perbatasan seperti Cikamurang, Gantar, dan Haurgeulis. Tetapi ada juga beberapa daerah yang bukan perbatasan tetapi menggunakan bahasa Sunda seperti Parean dan Lea. 

Untuk itu dia menginginkan pembeda identitas dengan budaya daerah lain dengan Indramayu yakni dengan menggunakan kata Reang yang artinya saya itu untuk menunjukkan identitas orang Indramayu. Berbeda dengan daerah lain seperti Cirebon menggunakan kata Isun, Sunda menggunakan kata Abdi dan lain sebagainya. 

Setelah tanya jawab acara dilanjutkan dengan kritisi buku Budaya Dermayu oleh Saptaguna. Menurut dia buku tersebut masih ada kekurangan dalam hal ini masalah agama. Karena budaya tidak lepas dari agama. Dia mengatakan bahwa penyebaran agama Islam tidak terlepas dari peran dari pesantren dan ulama. 

Selain itu dia juga tidak mengulas batas waktu sejarah dan budaya karena setiap tahun budaya dan sejarah bisa berubah karena adanya akulturasi, penemuan dan penelitian terbaru dan lain sebagainya. 

Bersama Saptaguna (Foto Bintang Book Corner)

Supali Kasim dan Saptaguna tertarik setelah kami dari perwakilan Blogger Indramayu, mengungkapkan bahwa kami fokus pada dunia tulis menulis di dunia maya dalam berbagai hal positif tentang Indramayu, dari pendidikan, seni budaya, wisata dan tokoh-tokohnya. Saptaguna mengungkapkan banyak penulis dari Indramayu yang sudah membuat buku, novel, komik tetapi belum begitu dikenal oleh masyarakat luas oleh sebab itu mereka berdua meminta bantuan Komunitas Blogger Indramayu untuk mengungkap hal tersebut. 

Diskusi ini menarik minat generasi muda tidak hanya dari Indramayu tetapi dari daerah lain seperti Ciamis dan Cianjur yang hadir di acara ini. Beberapa peserta berasal dari daerah lain seperti Karangampel, Kroya, Anjatan, Indramayu dan lain-lain. 

Acara diakhiri dengan pemberian hadiah dari pemateri dan panitia kepada peserta dan foto bersama. Acara ini sangat menarik hingga walaupun sang moderator sudah menakhiri acara tersebut masih terlihat beberapa berkumpul dan rencana membahas kembali berbagai hal termasuk seni dan budaya Indramayu yang selalu menarik untuk dipelajari.

1 komentar on Budaya Dermayu Tetap Menarik Untuk Dipelajari

  1. hallo, Saya Revi. saya ada project film dokumenter tentang kota Indramayu. kalau saya mau menghubungi Kang Supali Kasim, bagaimana ya? Boleh saya tahu infonya?
    terima kasih sebelumnya

    ReplyDelete