Cakra Udaksana, Senjata Andalan Indramayu

Sunday, May 3, 2015
Pusaka Cakra Udaksana (www.radarcirebon.com)

Setiap daerah biasanya memiliki senjata andalannya masing-masing, seperti Aceh memiliki rencong, Sumatera Barat memiliki Karih, Jawa Barat yang memiliki kujang, Jawa Tengah dan Yogyakarta memiliki keris dan lain sebagainya. Begitu juga halnya dengan kabupaten Indramayu yang memiliki senjata andalan yang bernama Cakra Udaksana

Pusaka Cakra Udaksana merupakan senjata andalan Raden Bagus Aria Wiralodra pendiri Kota Indramayu. Nama lain dari Pusaka Cakra Udaksana adalah Cakra Baswara. Senjata andalan ini digunakan oleh Raden Aria Wiralodra saat menghadapi Raden Werdinata Pimpinan Kerajaan makhluk gaib Pulomas.

Karena punya kesaktian seimbang, pertarungan antara Raden Werdinata dengan Raden Wiralodra memakan waktu selama 11 bulan. Senjata andalan Arya Wiralodra berupa Cakra Udaksana ternyata mampu diatasi Raden Werdinata dengan menggunakan pusaka berupa tameng bernama Kopyahwaring. Padahal, senjata cakra andalan Arya Wiralodra itulah yang mampu melumpuhkan Maharaja Budipaksa Penguasa makhluk gaib di hulu Sungai Cimanuk. Tameng Kopyahwaring adalah pusaka turun temurun Kerajaan Pulomas. 

Sebelum ada korban yang jatuh, muncul Kalacungkring, penguasa gaib Kerajaan Tunjungbong. Kalacungkring menyarankan kepada Raden Werdinata supaya menghentikan pertarungan dan sebaiknya menjalin persaudaraan dengan Aria Wiralodra. Selain dengan dalih Maharaja Budipaksa sudah dikurung di dasar muara Cimanuk, alasan yang paling utama adalah karena ketakutan jika leluhur Arya Wiralodra tersinggung, baik dari kalangan manusia-manusia kuno Majapahit maupun leluhur Ki Gedeng Bagelen. Jika semuanya leluhurnya murka termasuk Ki Sidum, niscaya kerajaan alam gaib di sepanjang lembah Sungai Cimanuk dapat dibuat musnah untuk selama-lamanya. 

Atas saran Kalacungkring, Raden Werdinata meminta Aria Wiralodra agar menghentikan pertarungan dan mengajak mengikat tali persaudaraan hingga ke anak cucu. Sebagai pengikat persaudaraan, Raden Werdinata menyerahkan putri kesayangannya bergelar Putri Inten untuk diperistri oleh Arya Wiralodra. 

Setelah perdamaian itu, dengan dibantu para prajurit dan penduduk Pulomas, tugas mendirikan kerajaan di lembah Sungai Cimanuk akhirnya lebih cepat selesai, dan Raden Wiralodra menjadi pemimpin pertama kerajaan di lembah sungai tersebut, yang hingga kini bernama Kabupaten Indramayu. 

Sebagai bangsa jin yang diberi umur panjang, meski Arya Wiralodra telah wafat dan digantikan keturunannya bahkan sampai sekarang ini, Raden Werdinata masih hidup dan memimpin kerajaan Pulomas didampingi Mahapatih Jongkara. Sedangkan Panglima Kalasrenggi, setelah kabur dari hadapan Ki Tinggil kini menjadi pemimpin raja kecil di Rawabolang atau Situ Bolang, yang masuk Desa Jatisura, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. 

Konon, Raden Werdinata kemudian menjadi Jin Islam pertama di Pulomas. Sebagian rakyatnya kemudian memeluk agama Islam juga. Namun sebagian lainnya masih menganut ajaran lama yakni (animisme dan dinamisme). Bahkan beberapa di antaranya melakukan praktek persekutuan dengan makhluk gaib untuk mendapatkan kekayaan secara instan atau yang lebih dikenal dengan pesugihan. 

Sebagai Jin Islam, Raden Werdinata lebih banyak khalwat (berdiam diri) di ruang pribadinya, ketimbang mengurusi pemerintahan. Raden Werdinata juga konsisten dengan ikatan persaudaraan dengan Aria Wiralodra meski saudaranya itu sudah wafat sejak ratusan tahun silam. 

Konon, dalam dzikirnya, suatu malam Raden Werdinata mendapat petunjuk bahwa daerah Indramayu akan diterjang ombak pemusnah (Tsunami). Tanpa banyak pertimbangan, dia menyudahi dzikirnya lalu mendatangi penguasa Pantai Utara. 

Di hadapan Nyi Ratu Nawangwulan (namanya mengingatkan pada nama bidadari yang dinikahi Jaka Tarub), penguasa Pantai Utara, Raden Werdinata meminta supaya ombak pemusnah itu jangan sampai menerjang penduduk Indramayu dimana banyak terdapat anak cucu, cicit dan buyutnya. Jika ombak pemusnah itu sampai menerjang, dia mengancam untuk mengajaknya bertarung. 

Meskipun sadar ilmu Nyi Ratu Nawangwulan jauh lebih tinggi, demi ikatan persaudaraan dengan Aria Wiralodra, dia rela mempertaruhkan nyawanya mati di tangan Nyi Ratu Nawangwulan. Untungnya Nyi Ratu Nawangwulan bersedia memenuhi permintaannya, sehingga ombak pemusnah atau Tsunami itu urung menerjang Indramayu dan berputar menerjang daerah Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. 

Sebagian diambil dari blognya Dodi Nurdjaja

3 komentar for Cakra Udaksana, Senjata Andalan Indramayu :

  1. penggalian sejarah untuk suatu fakta berdirinya Kabupaten apakah ga ada yang lebih masuk logika? terus penggalian sejarah yg lebih realistis walaupun tdk menutup kemungkinan ada intervensi mahluk astral disekeliling kita.

    salam santun...

    ReplyDelete
  2. raden arya wiralodra sama raden kian santang sama gk ...

    ReplyDelete