Kisah Usahawan Bajaj Asal Indramayu Di Kota Metropolitan

Friday, November 21, 2014

H. Mukali adalah salah seorang usahawan bajaj yang sukses di kota metropolitan Jakarta. Namun, dibalik kesuksesannya, tentu ada hal-hal tidak kita ketahui sebelumnya. Bagaimana dia mengawali perjalanan hidupnya di jakarta? Bagaimana dia memulai usahanya? dan lain-lainnya, sehingga ia bisa sukses menjadi pengusaha bajaj. Yuk, kita langsung simak saja bagaimana kisah usahawan bajaj asal Indramayu ini bisa sukses di kota Metropolitan.


H. Mukali awalnya adalah seorang warga kampung asal Indramayu, tepatnya di desa Jati Sawit. Dia nekat pergi ke Jakarta bekerja sebagai penarik becak di kawasan Tanjung Priok. Profesi itu dijalaninya sejak tahun 1940. Becak yang ditariknya adalah milik seorang warga Tionghoa.

Lebih dari tujuh tahun ia menguras keringat mengayuh becak di Jakarta guna mempertahankan hidup, menafkahi seorang istri dan dua anaknya yang tinggal di rumah kontrakan. Setiap hari dari hasil kerjanya ia sisihkan untuk ditabung. Dari hasil tabungannya ia membeli dua buah becak. Satu becak dipakainya sendiri untuk cari penumpang dan yang lainnya disewakan kepada temannya.

Meski telah memiliki penghasilan yang lumayan waktu itu, ia tetap mencari tambahan dengan menjadi kuli panggul di pasar. Hasilnya ditabungkan dan lama-kelamaan bisa membeli becak lagi. Begitu dan begitu ia lakukan dalam beberapa tahun. Hingga akhirnya ia Mampu memiliki sebanyak 20 becak, yang kemudian disewakan kepada para abang becak asal Indramayu dan Karawang. "Alhamdulillah sekitar tahun 60-an saya sudah memiliki sebanyak 186 becak. Dari hasil sewa becak saya mampu membeli sebuah rumah yang sekarang saya tempati bersama para supir bajaj di kawasan Tebet." Kata H. Mukali.

Dari hasil sewa becaknya pula ia mampu menyekolahkan delapan anaknya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi bahkan keluar negri, dan hampir semua anaknya memiliki gelar sarjana. Bisnis transportasi becak pada saat itu boleh dibilang empuk. Saingan sejenis kendaraan umum lain masih kurang. Pada saat itu kendaraan becak dikenal sebagai sarana transportasi merakyat, yang bebas berkeliaran mencari muatan di jalan-jalan raya, hingga ke pelosok gang.

Semua pengayuh becak yang berasal dari Indramayu merasa terbantu beban hidupnya tinggal di Jakarta, karena telah diberi fasilitas pemondokan gratis di rumah H. Mukali. Para tukang becak menjadi semangat  mencari nafkah di Jakarta. Sarana transportasi di Jakarta semakin tajam saingannya. Bahkan pada tahun 70-an Pemda DKI memberlakukan kawasan bebas becak. Hampir semua jalan raya tak dibolehkan dilalui kendaraan roda tiga.

Dampaknya bisnis milik Mukali tersisih. apakah dia menyerah? Tidak. "Bila saya berhenti bisnis becak ini kasihan ratusan pekerja dan kasihan bagaimana nasib anak istrinya. Makanya saya ambil jalan pintas semua becak dijual lalu dibelikan mobil taksi, helicak dan mobil opelet. Alhamdulillah semua tukang becak tak ada satupun yang pulang kampung.

Mereka mau beralih profesi dari pengayuh becak menjadi supir dan kendaraan bermotor", katanya. Rupanya bisnis kendaraan bermotor seperti helicak, taksi, dan opelet dirasakan besar sekali resikonya. Banyak sekali pengeluaran antara lain untuk mengganti suku cadang, membayar pajak dan membayar trayek.

Melihat kondisi seperti itu Mukali hanya mampu bertahan selama lima tahunan. Kebetulan opelet pada saat itu dilarang beroperasi. Sebagai gantinya adalah bajaj.

Saat itu baru muncil kendaraan roda tiga buatan india seperti bajaj itu. "Makanya daripada saya menyerah dan mengorbankan ratusan supir, lebih baik semua kendaraan bermotor  itu saya jual dan dibelikan bajaj sampai sekarang. Alhamdulillah hampir 20 tahun bisnis transportasi bajaj masih bisa bertahan.

Meski sekarang ini sedang mengalami krisis seiring dengan rencana peremajaan bajaj diganti dengan mobil roda empat jenis kancil buatan surabaya, kata kakek 32 Cucu dan buyut dari enam cicit itu. H. Mukali menceritakan kiat dibalik kesuksesan dalam mengelola bisnis sarana transportasi di Jakarta yang diawali dengan modal nekat sebagai pengayuh becak itu. Kiat utama kata dia harus percaya diri bahwa apapun pekerjaan yang digeluti pasti akan mendapatkan rejeki.

Dalam perjalanan pekerjaan harus dibarengi dengan kejujuran dan harus memiliki toleransi terhadap rekan-rekan seprofesi. Seandainya telah mendapatkan rejeki sekecil apapun harus disyukuri sebagai pemberian dari tuhan. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan, selaku ummat muslim yang beriman jangan lupa membayar zakat, infaq, sedekah dan harus peduli terhadap orang lain terlebih bagi orang miskin.

Disamping mensyukuri nikmat Tuhan, saya tak pernah lepas menjalankan puasa wajib, puasa sunah, dan selalu menjaga diri jangan sampai melakukan perbuatan maksiat dan segala godaan duniawi lainnya, katanya sambil setiap tahun ia tak pernah absen melaksanakan ibadah puasa senin-kamis. Ditengah kesibukannya ia selalu membimbing para karyawannya agar rajin melaksanakan ibadah dan melarang karyawannya melakukan perbuatan maksiat.

H. Mukali mengaku kesuksesan yang diraihnya adalah berkat kerja kerasnya dan tidak lupa mendekatkan diri kepada Allah. Dari hasil usahanya selama ini ia mampu membeli lahan pekarangan dan area sawah di desanya di Indramayu. H. Mukali mengaku memiliki lahan tanah seluas delapan hektar lebih, ditanami sebanyak 1000 buah pohon mangga. Dari hasil tanaman mangga setiap tahun rata-rata mengais keuntungan tak kurang Rp. 70 juta. Belum lagi keuntungan  dari hasil menyewakan sawah.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Mukali telah menjalankan ibadah haji 3 kali. Bila kebetulan pulang ke desanya di Indramayu tidak pernah absen mengulurkan tangan untuk berbagi rejeki untuk sarana pembangunan keagamaan dan kepentingan masyarakat lainnya. Alhamdulillah saya mampu menikmati hari tua. Mudah-mmudahan apa yang Tuhan berikan, menjadi rejeki yang halal dan berkah untuk tabungan di akherat nanti, kata kakek kelahiran 1920 ini mengenang perjalanan hidupnya setelah lebih setengah abad malang melintang mengadu nasib di kota metropolitan.

Sumber: http://goo.gl/ZqKxSW

0 komentar:

Post a Comment test